Entah ini udah keberapa
kalinya gue bangun kesiangan gara gara mimpi konyol itu, selalu terulang selama
2 bulan terakhir ini. Mimpi dengan orang yang sama dengan tempat yang berbeda,
mimpi bagai dunia nyata. Tapi setiap kali gue terbangun dari mimpi, wajah yang
gue temui dalam mimpi mendadak hilang gak sama sekali gue inget bentuk rupanya.
Padahal didalam mimpi wajahnya jelas sekali dan gue dekat sama dia. Tapi satu
yang gue inget dari wajah sang tamu mimpi, dia adalah Pria dengan senyum
manisnya.
---
Panggil aja gue Bintang, udah 2 bulan ini gue mimpi
aneh. Mimpi tentang cowok yang sama walaupun beda tempat, ntah kenapa didalam
mimpi itu gue deket dan ngerasa nyaman banget sama dia. Gue gak tau dia siapa,
gue juga gak tau namanya siapa. Tapi gue ngerasa gak sendiri kalau dia dateng
dimimpi gue, walaupun gue suka kesel karna mimpi konyol itu gue jadi kesiangan
buat berangkat kuliah.
Gue
ini anak ke 2 dari 2 bersaudara, kakak gue namanya Mentari dia udah nikah dan
punya 1 orang anak laki laki namanya Bayu, gue tinggal sama mama dan kak
mentari juga anaknya. Gue kuliah disalah satu Universitas didaerah jakarta dan
gue masuk fakultas sastra jepang, sekarang gue udah semester akhir. Gue
suka basket, gue suka olahraga. Dan gue gak pernah punya pacar !
Lagi
lagi gue jalan cepat menuju kelas menelusuri kolidor kampus, kaki gue menyapu
lantai dengan cepat, setengah berlari. Gue sibuk membenarkan rambut yang dari
tadi menghalangi pandangan gue, tapi tiba tiba gue ditabrak sampai gue terjatuh
dan novel sang penabrak jatuh didepan gue.
“sorry, sorry gue gak liat.” Kata si penabrak yang
mengambil novelnya didepan gue dan membangunkan gue dari posisi duduk. Gue
lihat cover novel yang dia bawa, berwarna biru, berjudul BINTANG. Dengan gambar
cover seorang anak kecil dengan perubahan menjadi dewasa.
“lain kali kalau baca novel tuh sambil duduk yaa bro, biar gak nabrak orang.” Sahut gue sewot.
“lain kali kalau baca novel tuh sambil duduk yaa bro, biar gak nabrak orang.” Sahut gue sewot.
“iyaa sorry, gue gak sengaja mboy. Novel ini seru
mboy..” Jawabnya dengan santai, dia teman gue, Andi. Dia biasa manggil gue mboy, Andi teman dari Sma, nyokapnya
kenal dekat dengan nyokap gue. Dan gue lumayan dekat sama dia karna nyokap kita
suka main bareng, ntah itu dateng kerumah atau ketemuan.
“mboy, novel ini tentang el..” Gue langsung meninggalkan dia yang
kelihatannya masih pingin ngajak gue ngobrol, sepintas gue denger dia bahas
novel yang dia pegang. Kaki gue melangkah lebih cepat karna waktu menunjukan 2 menit
lagi masuk mata kuliah. Dan dosen gue adalah Mr. Shinji , dosen asli orang
jepang dan dia tepat waktu banget, telat 1 menit gak akan bisa masuk kelas dan
nilai dikurangi karna tidak disiplin. Akhirnya gue sampai kelas tepat waktu,
doi udah didalam kelas dengan posisi duduk dimejanya. Yeeepp dia selalu sampai
kelas 5 menit sebelum pelajaran dimulai, dan gue setiap pelajaran doi selalu
deg-degan parah sampai perut gue melilit. Kita harus ngomong pake bahasa jepang
dikelasnya, sedangkan gue takut salah ngomong dalam percakapan bahasa jepang.
Gue Cuma ngerti apa yang doi jelaskan tanpa berani nimpalinnya, dan pelajaran
dia dikelas adalah 3 jam.
**
“bintaaaaangggggg !!” suara nyaring itu menusuk
sampai kegendang telinga gue, mata gue terbuka sedikit dan gue ngeliat sosok
kakak perempuan gue dengan wajah geramnya.
“apa sih lo kak, gak tau apa gue lagi tidur” jawab gue yang merubah posisi tidur.
“apa sih lo kak, gak tau apa gue lagi tidur” jawab gue yang merubah posisi tidur.
“yang benar aja sih bintang, lo tidur sih tidur tapi
ini berantakan banget. Sepatu lo, kaos kaki, sepatu, tas, buku, laptop masih nyala. Jajanan lo juga nih
dimeja berantakan, udah tidur disofa, lo
jadi perempuan jangan jorok dong bi” nyerocos kak mentari sambil nunjuk apa
yang dia sebutin tadi.
“astagaaaaa kak, lo bawel banget sih sumpah !!”
sahut gue yang langsung bangun dan beresin semua peralatan tempur gue dan
ngebersihin sisa cemilan gue. “gue tadi tuh ketiduran abis ngerjain tugas,
bawel lo” kata gue sambil bawa peralatan tempur gue dan pergi ke kamar, kak
tari Cuma bisa diam dan liat gue sambil geleng geleng kepala. Gue masuk kamar
dan naru semua barang barang gue dan banting badan gue diatas kasur, gue
menatap langit langit kamar gue ngebayangin satu persatu tugas kuliah gue yang
udah tuntas sebagian, juga uas sastra, hah? uas sastra, ahh gue belum nyalin
catetan. Tiba tiba ada sosok pria itu dihadapan gue..
“lo ngapain disini?” tanya gue ketus.
“lah kamu yang dateng kesini” jawabnya sambil tersenyum.
“lah kamu yang dateng kesini” jawabnya sambil tersenyum.
“maksud lo gue mimpi lagi? Tadi perasaan gue lagi
natap langit langit kamar gue.” Sahut gue sambil duduk disampingnya. Dia hanya
mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum natap gue.
Akhirnya gue ngobrol
banyak hal sama dia, gue cerita tentang perkembangan basket ataupun film yang
saat ini sedang popular. Satu yang gue aneh dari mimpi ini adalah kenapa
didalam mimpi gue bisa cerita panjang lebar sama dia dan kenapa selalu dia yang
muncul didalam mimpi gue, emangnya mimpi gue gak punya stok mimpi lain apa yah.
Ini kenapa gue jadi suka bangun kesiangan karna gue keasikan sama mimpi gue,
bukan gue doang yang cerita tapi dia juga cerita cerita. Setiap kali gue nanya
siapa namanya, gue pasti kebangun dari mimpi dan langsung lupa gimana bentuk
wajanya dia. Kali ini gue perhatiin wajahnya dia biar nanti pas gue bangun, gue
gak lupa lagi sama wajahnya dia.
“kenapa merhatiin aku sampai kayak gitu?” tanyanya
bingung.
“biar gue gak lupa sama wajah lo, abis setiap gue bangun dari tidur, gue tuh gak inget sama sekali wajah lo. Bahkan setiap kali gue nanya siapa nama lo, gue langsung bangun dari mimpi..”
“aku Cuma penghias mimpi kamu doang kok bin, gak usah takut. Aku gak akan nyakitin kamu. Aku boleh tanya sesuatu gak bin?”
“apa?”
“kenapa sampai saat ini kamu belum pernah pacaran? Kenapa gak punya pacar? Trus kenapa kamu gak pernah percaya sama cowok”
“kenapa nanya gitu? Lo tau dari mana?” jawab gue sewot.
“yaa aku Cuma tanya aja bin, aku Cuma bingung. Biasanya perempuan seusia kamu udah sering putus dan jadian sama cowok lain.”
“masalah emang buat lo, hah? Mau gue pacaran atau enggak itu urusan gue, mau gue percaya apa enggak sama semua orang juga urusan gue”
“maaf bin aku gak maksud bikin kamu marah”
“sorry, gue agak sensitif di tanya gitu. Karna gue gak suka ditanya gitu, Sebenarnya lo itu siapa sih, kok ada terus dimimpi gue. Hampir setiap hari, lo dateng dimimpi gue. Siapa lo? Jawab !” bentak gue ke pria yang duduk disamping gue, wajahnya teduh dan gak menunjukan reaksi apapun pas gue bentak dia dengan wajah nanar gue. Gue bangkit dari duduk dan berdiri didepannya sambil natap dia kesal, gue nunggu dia jawab.
“maafin aku bin, jangan marah sama aku. Aku Cuma mau tau aja tentang kamu lebih dalam.” Jawab dia dengan santai, tapi matanya tak beralih dari mata gue. Dia natap gue dengan wajah teduhnya.
“biar gue gak lupa sama wajah lo, abis setiap gue bangun dari tidur, gue tuh gak inget sama sekali wajah lo. Bahkan setiap kali gue nanya siapa nama lo, gue langsung bangun dari mimpi..”
“aku Cuma penghias mimpi kamu doang kok bin, gak usah takut. Aku gak akan nyakitin kamu. Aku boleh tanya sesuatu gak bin?”
“apa?”
“kenapa sampai saat ini kamu belum pernah pacaran? Kenapa gak punya pacar? Trus kenapa kamu gak pernah percaya sama cowok”
“kenapa nanya gitu? Lo tau dari mana?” jawab gue sewot.
“yaa aku Cuma tanya aja bin, aku Cuma bingung. Biasanya perempuan seusia kamu udah sering putus dan jadian sama cowok lain.”
“masalah emang buat lo, hah? Mau gue pacaran atau enggak itu urusan gue, mau gue percaya apa enggak sama semua orang juga urusan gue”
“maaf bin aku gak maksud bikin kamu marah”
“sorry, gue agak sensitif di tanya gitu. Karna gue gak suka ditanya gitu, Sebenarnya lo itu siapa sih, kok ada terus dimimpi gue. Hampir setiap hari, lo dateng dimimpi gue. Siapa lo? Jawab !” bentak gue ke pria yang duduk disamping gue, wajahnya teduh dan gak menunjukan reaksi apapun pas gue bentak dia dengan wajah nanar gue. Gue bangkit dari duduk dan berdiri didepannya sambil natap dia kesal, gue nunggu dia jawab.
“maafin aku bin, jangan marah sama aku. Aku Cuma mau tau aja tentang kamu lebih dalam.” Jawab dia dengan santai, tapi matanya tak beralih dari mata gue. Dia natap gue dengan wajah teduhnya.
“mau tau gue lebih dalam? Emang lo kira, lo siapa
hah? Lo gak mau jawab pertanyaan gue tadi, lo gak mau kasih tau siapa lo yang
sering banget masuk kemimpi gue selama 3 bulan ini?”
“Bintang...”
“Tetap gak mau jawab? Okee fine, toh ini juga Cuma mimpi gue bisa kapan aja berharap lu gak ada disini. jangan pernah masuk lagi kemimpi gue, jangan pernah tunjukin wajah lo dihadapan gue lagi !” Gue ninggalin cowok itu yang masih duduk di bangkunya, suasana dimimpi gue emang sepi saat itu. Cuma ada 1 bangku taman yang panjang dan 1 meja, di sekeliling Cuma berwarna putih. Gue jalan terus, ntah mau kemana gak ada pemandangan apapun. Yang gue cari saat ini Cuma, dimana pintu keluar dari mimpi ini. Gue mau bangun, gue coba cubit pipi gue tapi gak kerasa. Dengan lesu dan kesal yang masih terbayang kata kata dia gue gak ngeliat ada lubang dan gue terjatuh. Hey sejak kapan ada lubang disitu?
“Bintang...”
“Tetap gak mau jawab? Okee fine, toh ini juga Cuma mimpi gue bisa kapan aja berharap lu gak ada disini. jangan pernah masuk lagi kemimpi gue, jangan pernah tunjukin wajah lo dihadapan gue lagi !” Gue ninggalin cowok itu yang masih duduk di bangkunya, suasana dimimpi gue emang sepi saat itu. Cuma ada 1 bangku taman yang panjang dan 1 meja, di sekeliling Cuma berwarna putih. Gue jalan terus, ntah mau kemana gak ada pemandangan apapun. Yang gue cari saat ini Cuma, dimana pintu keluar dari mimpi ini. Gue mau bangun, gue coba cubit pipi gue tapi gak kerasa. Dengan lesu dan kesal yang masih terbayang kata kata dia gue gak ngeliat ada lubang dan gue terjatuh. Hey sejak kapan ada lubang disitu?
“aduh” jerit gue, yang gue alami benar benar.. gue jatuh dari atas kasur, mungkin ini akibat dari jatuh didalam mimpi. Ada untungnya juga gue bisa bangun walaupun harus sakit karna badan gue nabrak lantai. Gue bangun dan duduk bersandar dibantal, kedua kaki gue tekuk. Jam menunjukan pukul 3 malam, gue kira udah pagi. Yaa jelas aja gue bangun jam segini, gue kan tidur dari jam 7 malam tadi. Gue masih menatap lurus kedepan tepat kearah pintu, kata kata cowok didalam mimpi itu masih terasa dikuping gue. Mungkin buat cewek yang lain ditanya kayak gitu biasa, tapi gak buat gue!! Gue coba buat tidur lagi, karna besok sabtu dan gue libur kuliah jadi gue mau bangun siang. Gue bulak balik cari posisi yang pas buat tidur, tapi gak nemu posisi yang enak. Lagi lagi gue dalam posisi menatap langit langit kamar gue.
“ah sial gue gak bisa tidur lagi” gerutu gue sambil nutup muka dengan bantal.
**
Udah
seminggu ini gue tidur nyenyak, cowok itu gak pernah muncul didalam mimpi gue,
semenjak gue marah marah sama dia. Orang itu benar benar gak muncul lagi
dihadapan gue, bahkan tidur gue pun tanpa mimpi apapun. Awalnya sih gue biasa
aja, karna gue gak pernah bangun kesiangan karna mimpi aneh itu. Tapi lama
kelamaan kok gue ngerasa hidup gue berkurang satu, ada yang hilang, gue ngerasa
ini aneh ..
Sore
ini gue latihan basket sama anak anak kampus gue, team cewek vs team cowok.
Lapangan ramai dengan teriakan mereka yang saling memanggil nama teman mereka,
suara decitan sepatu mereka, sorakan mereka ketika bola melambung masuk kedalam
ring basket. Hanya permainan biasa, tanpa piala atau gelar juara. Permainan
antar teman seperjuangan, jatuh dan bangkit, dan tertawa, permainan berakhir
ketika kita sudah merasa lelah. Kita semua duduk di pinggir lapangan basket,
mengambil handuk kecil, mengusap rata ketempat keringat, minum dari botol air
mineral yang kita beli. Langit senja menyinari kita, dan tubuh kita yang
mengkilap karna keringat dan paparan sinar matahari yang mulai menyingsing
terbenam. Mata gue lurus kedepan, memandang bola basket yang diam di tengah
lapangan. Tangan kanan gue memegang botol air, handuk kecil melingkar di
sekitar leher gue. Seketika gue inget sesuatu.. lebih tepatnya seseorang yang
bercerita tentang dia suka basket dan akhirnya kita bercerita tentang basket,
seseorang didalam mimpi. Apa kabar yah dia?
“Bi, nanti malam jadi kan kita main ke cafe yang gue
bilang itu” tanya teman gue sinta.
“iyaa jadi, kalau gue gak males.”
“ahh lu mah bi, mager mulu kerjaannya. Keluar malam minggu, siapa tau dapet cowok. Haaha” celoteh Rizky
“baaaaa....wel” jawab gue, yang langsung bangkit dan memakai jaket.
“gue balik duluan yah.” Kata gue yang langsung narik tas gue dan berjalan menuju motor biru yang terparkir di seberang lapangan. Gue memacu motor gue, roda roda sepeda motor gue menyapu jalan sampai menuju rumah. Gue parkir dihalaman rumah dan masuk kedalam, seperti biasa sepi. Nyokap gak lain dan gak bukan pasti ada di butik dan kakak gue pasti belum pulang kerja, karna Cuma ada bayu ponakan gue diruang tv dengan pembantu rumah tangga. Bayu baru berusia 5 tahun, dia sekolah TK didekat daerah rumah gue.
“iyaa jadi, kalau gue gak males.”
“ahh lu mah bi, mager mulu kerjaannya. Keluar malam minggu, siapa tau dapet cowok. Haaha” celoteh Rizky
“baaaaa....wel” jawab gue, yang langsung bangkit dan memakai jaket.
“gue balik duluan yah.” Kata gue yang langsung narik tas gue dan berjalan menuju motor biru yang terparkir di seberang lapangan. Gue memacu motor gue, roda roda sepeda motor gue menyapu jalan sampai menuju rumah. Gue parkir dihalaman rumah dan masuk kedalam, seperti biasa sepi. Nyokap gak lain dan gak bukan pasti ada di butik dan kakak gue pasti belum pulang kerja, karna Cuma ada bayu ponakan gue diruang tv dengan pembantu rumah tangga. Bayu baru berusia 5 tahun, dia sekolah TK didekat daerah rumah gue.
“anty bintang abis dari mana?” tanyanya begitu liat
gue melintas disamping sofa.
“abis main basket” jawab gue singkat, bayu hanya memperhatikan gue sampai masuk ke dalam kamar, gue taru tas gue dibawah samping kasur.
“abis main basket” jawab gue singkat, bayu hanya memperhatikan gue sampai masuk ke dalam kamar, gue taru tas gue dibawah samping kasur.
Gue langsung masuk kamar mandi, membersihkan sisa
sisa keringat yang menempel di kulit gue. Setelah gue keluar dari kamar mandi,
terdengar suara nyokap gue yang menyapa bayu. Gue buka sedikit pintu kamar
untuk memastikan, begitu melihat nyokap, gue langsung tutup pintu kamar dan
berbaring diatas kasur. Berat rasanya buat bangun dari kasur dan pergi ke cafe
yang sinta bilang, jam sekarang menunjukkan pukul 06.45 menit. Dan mereka minta
gue dateng dan kumpul jam 08.00, masih ada waktu 1 jam lagi. Malas rasanya,
karna disana paling hanya duduk dan mengobrol hal yang gak penting. Gue menatap
langit langit kamar gue, sambil memikirkan itu semua. Terdengar dari luar kamar
gue suara dari kak mentari yang baru pulang, gue menutup wajah dengan bantal.
Kenapa hidup gue begini, kayak sayur yang gak pakai garam, hambar. Gue sayang
kak mentari, sayang banget sampai gue gak rela kalau ada yang nyakitin dia. Gue
sayang bayu, ponakan gue satu-satunya, dia lucu, cerdas, bawel, kadang gue
pingin banget peluk dan cium bayu, gue ngerasa kasihan, tapi gue gengsi buat
ngelakuin itu semua, dan terkadang wajah bayu mengingatkan gue sama orang itu !
terlalu lelah gue berontak dalam hati sama pikiran gue, sampai akhirnya gue
tertidur. Udah seminggu ini gue gak pernah mimpi, dan kali ini gue bermimpi duduk
disebuah taman siang hari dengan tiupan lembut sang angin dan awan yang
menutupi matahari. Kayaknya gue kenal taman ini, tapi dimana..
“Hey bintang..” cowok itu.. datang lagi, dengan
wajah yang berbeda. Pucat dan terlihat tak baik.
“ Lo?” jawab gue kaget.
“Maaf, udah lama kita gak ketemu. Jujur aku gak sanggup kalau gak lihat kamu bin.” Katanya yang sambil menghampiri gue dan duduk disamping gue.
“Alah basi, semua cowok juga pasti bakal bilang gitu kesemua cewek.”
“Kenapa kamu gak percaya sama aku bin?” tanyanya dengan nada suara yang lemah, gue rasa dia sakit. Atau ini Cuma wujud dari permainannya biar gue iba ngeliat dia yang pucat ini.
“ Ya karna semua cowok emang gak akan ada yang bisa dipercaya omongannya, dan mereka itu sama aja. Sama sama kasar dan egois!” jawab gue sambil menekan setiap kata.
“Kamu salah bin”
“Apanya yang salah? Lo bilang gini yaa karna lo cowok, dan gue bilang begitu karna gue cewek.”
“ Lo?” jawab gue kaget.
“Maaf, udah lama kita gak ketemu. Jujur aku gak sanggup kalau gak lihat kamu bin.” Katanya yang sambil menghampiri gue dan duduk disamping gue.
“Alah basi, semua cowok juga pasti bakal bilang gitu kesemua cewek.”
“Kenapa kamu gak percaya sama aku bin?” tanyanya dengan nada suara yang lemah, gue rasa dia sakit. Atau ini Cuma wujud dari permainannya biar gue iba ngeliat dia yang pucat ini.
“ Ya karna semua cowok emang gak akan ada yang bisa dipercaya omongannya, dan mereka itu sama aja. Sama sama kasar dan egois!” jawab gue sambil menekan setiap kata.
“Kamu salah bin”
“Apanya yang salah? Lo bilang gini yaa karna lo cowok, dan gue bilang begitu karna gue cewek.”
Tiba tiba suasana menjadi hening, dia gak berbicara
sepatah katapun dia hanya memandang gue. Dan gue Cuma bisa diam tak bergeming,
bahkan sampai heningnya, gue ngerasa suara nafas gue pun terdengar. Dia
memalingkan wajahnya dari gue yang duduk disampingnya, dia duduk dan menatap
lurus kedepan. Ntah apa yang dipikirkan dia, apa kata kata yang dia pingin
ucapkan. Gue pun kehabisan kata kata setelah melontarkan ucapan itu dan dijawab
hanya dengan reaksi diamnya, gue ngerasa bersalah. Gue seneng dia ada disini,
aneh rasanya ini kan Cuma mimpi dan dia sosok yang gak tau asalnya dari mana
selalu dateng dalam mimpi gue.
“Apa semua cewek yang punya trauma akan berpikiran
seperti kamu bin? Apa itu Cuma ungkapan dari hati yang terluka?” ujarnya dengan
nada pelan, gue langsung melihat wajahnya begitu dia bilang gitu. Gue gak tau
harus jawab apa, ungkapan dari hati yang terluka? gue langsung memalingkan
wajah gue kedepan sedangkan pikiran gue malambung jauh kebelakang, gue menatap
balik wajahnya yang sendu dan pucat tapi terlihat tenang.
“Iya” jawab gue dengan perasaan campur aduk dan menahan kesal. Ntah kenapa gue merasakan mata gue perih dan terasa berair, berair? Mata gue berkaca kaca, gue langsung menatap lurus lagi kedepan takut dia melihat air mata yang gue tahan, yang gak pernah jatuh lagi selama belasan tahun.
“Iya” jawab gue dengan perasaan campur aduk dan menahan kesal. Ntah kenapa gue merasakan mata gue perih dan terasa berair, berair? Mata gue berkaca kaca, gue langsung menatap lurus lagi kedepan takut dia melihat air mata yang gue tahan, yang gak pernah jatuh lagi selama belasan tahun.
“Bin? Kamu sayang sama aku kan bin? aku kangen kamu bintang”
tanyanya, sontak buat gue kaget dan langsung menatap wajahnya. Matanya yang
hitam pekat dan menatap mata gue, menandakan kalau dia jujur.
“Apasih, maksud lo? Kenapa sih, lo dateng dateng bikin masalah lagi.” Gusar gue.
“Aku udah tau jawabanmu, waktu aku udah gak lama lagi bin. Waktu aku semakin sedikit untuk bisa datang walau hanya menyapa kamu dimimpi, tapi aku akan berusaha berjuang untuk bisa ketemu kamu secara langsung, aku akan bangkit melawan semuanya yang menarik aku untuk selalu tertidur, aku ingin bangun untuk berjumpa kamu, kita bisa main bareng lagi, sekarang aku udah tau jawabannya bin walaupun kamu gak jawab tadi. Mata kamu udah bicara banyak.”
“Aku yang akan mengobati luka kamu dan membuka awan gelap yang menutupi kesedihan kamu, aku gak akan mengobatinya disini. Aku akan datang langsung ke kamu, dengan begitu kita bisa bersama sama lagi, aku gak akan pergi lagi bin, aku rindu kamu.” Ujarnya sambil mengusap lembut kepala gue dan dia berjalan membelakangi gue yang masih bingung apa maksud dari kata katanya, dan dia terus berlalu dan hilang. Gue memegang kepala gue yang diusapnya, semua kata katanya terekam jelas di otak gue. Telinga gue gak mungkin salahkan sama apa yang dia bilang tadi? Mengobati luka, tertidur, bisa main bareng lagi? Sebenarnya siapa sih dia, apa dia ada di dunia nyata?
“Apasih, maksud lo? Kenapa sih, lo dateng dateng bikin masalah lagi.” Gusar gue.
“Aku udah tau jawabanmu, waktu aku udah gak lama lagi bin. Waktu aku semakin sedikit untuk bisa datang walau hanya menyapa kamu dimimpi, tapi aku akan berusaha berjuang untuk bisa ketemu kamu secara langsung, aku akan bangkit melawan semuanya yang menarik aku untuk selalu tertidur, aku ingin bangun untuk berjumpa kamu, kita bisa main bareng lagi, sekarang aku udah tau jawabannya bin walaupun kamu gak jawab tadi. Mata kamu udah bicara banyak.”
“Aku yang akan mengobati luka kamu dan membuka awan gelap yang menutupi kesedihan kamu, aku gak akan mengobatinya disini. Aku akan datang langsung ke kamu, dengan begitu kita bisa bersama sama lagi, aku gak akan pergi lagi bin, aku rindu kamu.” Ujarnya sambil mengusap lembut kepala gue dan dia berjalan membelakangi gue yang masih bingung apa maksud dari kata katanya, dan dia terus berlalu dan hilang. Gue memegang kepala gue yang diusapnya, semua kata katanya terekam jelas di otak gue. Telinga gue gak mungkin salahkan sama apa yang dia bilang tadi? Mengobati luka, tertidur, bisa main bareng lagi? Sebenarnya siapa sih dia, apa dia ada di dunia nyata?
“Bintang” suara mama membangunkan gue, gue membuka
bantal yang masih menutupi wajah dengan rambut yang acak acakan menutupi wajah
gue. Mata yang merah karna tertidur, menatap mama yang masuk kedalam kamar
menghampiri kasur.
“kamu ada janji sama teman teman kamu kan? Tadi sinta telpon kerumah, telpon ke handphone kamu gak diangkat angkat. Katanya jam 8 nanti ditunggu di cafe, sekarang 5 menit lagi udah mau jam 8 nih.” Ujar mama yang mengusap wajah gue dan merapihkan rambut gue, aahhh baru melek mata. Mager kemana mana, lagi lagi gue menatap langit langit kamar gue tanpa menghiraukan omongan mama tadi.
“kalau sudah janji harus ditepati kan bintang”
“aku gak janji sama mereka”
“tapi mereka nungguin kamu, lihat nih ada panggilan tak terjawab sampai 20 kali. Pasti dari mereka, mereka pasti rindu kamu yang dulu. Sekali kali keluar malam gak kenapa kenapa kok bi. Besok kan libur, asal pulangnya jangan terlalu malam.” Kata mama yang masih mengusap rambut ikal gue yang berwarna coklat. Akhirnya gue bangkit dari tempat tidur dan langsung cuci muka, pakaian yang ala kadarnya gue, gue langsung jalan menuju tempat yang dibilang sinta. Letaknya emang gak jauh dari rumah gue, Cuma butuh waktu 10 menit buat sampai kesana, kalau gak macet sih. Sesampainya disana gue lihat mereka udah duduk didalam cafe, suasana bising memenuhi malam itu ditambah lagi suara musik dari dalam cafe. Cafe Horizona, terletak di pinggir jalan yang ramai dilewati pengendara, depannya terdapat taman yang cukup besar dengan aneka permainan untuk anak anak kecil. Biasanya akan ramai kalau hari minggu pagi, karna taman itu juga biasa dipakai buat jogging, gue juga sering jogging ditaman ini, ntah sama teman teman yang lain ataupun sendirian. Cafe Horizona juga lumayan besar untuk ukuran cafe anak muda buat kumpul sama temannya atau sama kekasihnya. Gue langsung duduk di samping sinta, mereka yang gak menyadari gue dateng langsung diam pas gue duduk. Mereka hanya cengar cengir, melihat gue. Yapss, finally mereka berhasil bawa gue keluar malam ini. Gue cukup menikmati malam minggu gue sama mereka, not bad. Suasana menyenangkan dan hangat gue dapetin malam itu, ternyata malam minggu gak terlalu buruk kayak apa yang gue pikirin sebelumnya, gue lupa gimana rasanya ngumpul atau main di malam hari. Mungkin karna malam minggu gue sama mereka, perasaan gue agak tenang. Gak ada habisnya kita ketawa buat hal yang garing sekalipun..
“kamu ada janji sama teman teman kamu kan? Tadi sinta telpon kerumah, telpon ke handphone kamu gak diangkat angkat. Katanya jam 8 nanti ditunggu di cafe, sekarang 5 menit lagi udah mau jam 8 nih.” Ujar mama yang mengusap wajah gue dan merapihkan rambut gue, aahhh baru melek mata. Mager kemana mana, lagi lagi gue menatap langit langit kamar gue tanpa menghiraukan omongan mama tadi.
“kalau sudah janji harus ditepati kan bintang”
“aku gak janji sama mereka”
“tapi mereka nungguin kamu, lihat nih ada panggilan tak terjawab sampai 20 kali. Pasti dari mereka, mereka pasti rindu kamu yang dulu. Sekali kali keluar malam gak kenapa kenapa kok bi. Besok kan libur, asal pulangnya jangan terlalu malam.” Kata mama yang masih mengusap rambut ikal gue yang berwarna coklat. Akhirnya gue bangkit dari tempat tidur dan langsung cuci muka, pakaian yang ala kadarnya gue, gue langsung jalan menuju tempat yang dibilang sinta. Letaknya emang gak jauh dari rumah gue, Cuma butuh waktu 10 menit buat sampai kesana, kalau gak macet sih. Sesampainya disana gue lihat mereka udah duduk didalam cafe, suasana bising memenuhi malam itu ditambah lagi suara musik dari dalam cafe. Cafe Horizona, terletak di pinggir jalan yang ramai dilewati pengendara, depannya terdapat taman yang cukup besar dengan aneka permainan untuk anak anak kecil. Biasanya akan ramai kalau hari minggu pagi, karna taman itu juga biasa dipakai buat jogging, gue juga sering jogging ditaman ini, ntah sama teman teman yang lain ataupun sendirian. Cafe Horizona juga lumayan besar untuk ukuran cafe anak muda buat kumpul sama temannya atau sama kekasihnya. Gue langsung duduk di samping sinta, mereka yang gak menyadari gue dateng langsung diam pas gue duduk. Mereka hanya cengar cengir, melihat gue. Yapss, finally mereka berhasil bawa gue keluar malam ini. Gue cukup menikmati malam minggu gue sama mereka, not bad. Suasana menyenangkan dan hangat gue dapetin malam itu, ternyata malam minggu gak terlalu buruk kayak apa yang gue pikirin sebelumnya, gue lupa gimana rasanya ngumpul atau main di malam hari. Mungkin karna malam minggu gue sama mereka, perasaan gue agak tenang. Gak ada habisnya kita ketawa buat hal yang garing sekalipun..
Gak kerasa udah pukul 22.30 kita semua bubaran untuk
pulang kerumah masing masing, sinta dengan rio, acha dengan rizky, bunga dengan
setya, mereka berpacaran dan mereka juga deket sama gue dari dulu Sisanya,
angga, wiwi, dan gue, sebenarnya gue agak risih dengan rio, rizky, setya dan
angga kita temenan dari SMA tapi masih agak menutup diri buat dekat sama
mereka. Gue masih berdiri disamping motor gue, merhatikan teman teman gue yang
say goodbye sama gue dan langsung pergi berlalu. Pandangan gue lurus kearah
taman, yang lampunya menyala terang kesetiap sudut sampai gak ada sisi gelap.
Ntah apa yang gue pikirkan, akhirnya gue memakai helm dan pergi menyapu jalanan
dengan sepeda motor gue ke rumah. Lalu lalang kendaraan menyalip gue dan lampu
lampu kendaraan yang menyorot tajam dari arah berlawanan gak menyadarkan gue
dari lamunan yang gak tau apa yang gue pikirkan saat itu, sampai sebuah mobil
nissan juke mengklakson gue. Mungkin kalau mobil itu gak ngeklakson gue udah
ketabrak kendaraan lain dari arah berlawanan.
**
Udah
hampir dua bulan cowok dalam mimpi gue gak pernah datang lagi, gue pun gak
terlalu mikirin dia karna gue sibuk sama semua tugas tugas gue yang numpuk dan
skripsi gue. Tapi suatu ketika, ketika gue lagi duduk dicafe dekat kampus gue
teringat orang itu yang wajahnya samar samar gue ingat. Samar samar? Hey.
Wajahnya mulai bisa gue raba seperti apa, padahal sebelumnya gue gak pernah
ingat wajahnya. Tapi kenapa begitu dia pergi, malah wajahnya seolah olah bisa
gue ingat. Gue langsung mematikan laptop yang menyala didepan gue, membereskan
buku kuliah dan laptop gue kedalam tas. Gue langsung melaju motor gue ke rumah,
mungkin gue terlalu lelah makanya mikirin yang macam macam. Sesampainya
dirumah, gue lihat kakak gue dan nyokap duduk diruang tv. Kakak gue matanya
sembab, masih ada sisa airmata di pipi dan matanya yang merah. Nyokap gue pun
matanya memerah, sepertinya abis nangis juga. Gue berdiri disamping meja yang
berada didepan mereka.
“Ada apa ma?”
“Gak kenapa kenapa sayang.” Jawab mama yang masih mengusap pundak kak mentari.
“Kok pada nangis?”
“Bayu bi, dia nanyain papanya. Dia kangen papanya, pingin ketemu katanya bi.” Jawab kak mentari dengan nada lirih.
“Ck” gue Cuma berdecak dengar penjelasan kak mentari. “Kenapa pakai nangis sih, lebay banget.”
“Gimana gue gak sedih, bayu nanyain papanya dimana, dia nangis sampai ketiduran pingin ketemu papanya bi. Dia bilang, dia mimpi papanya minta tolong sama bayu sambil nangis nangis.” Kata kak Mentari yang airmatanya mengalir gitu aja ke pipinya. Gue tinggalin mereka dan menuju kekamar gue yang letaknya di lantai 2, kamar gue bersebelahan dengan bayu ponakan gue. Sebelum masuk kamar, gue intip bayu yang lagi tidur. Gue buka pintu kamarnya sedikit, dia lagi tertidur pulas. Kadang gue kasian melihat bayu, tapi gue suka benci kalau lihat dia. Akhirnya gue tutup pintu kamarnya dan gue masuk kekamar, berbaring menatap langit langit kamar. Kenapa semua ini terjadi sama keluarga gue? Pikir gue.
“Gak kenapa kenapa sayang.” Jawab mama yang masih mengusap pundak kak mentari.
“Kok pada nangis?”
“Bayu bi, dia nanyain papanya. Dia kangen papanya, pingin ketemu katanya bi.” Jawab kak mentari dengan nada lirih.
“Ck” gue Cuma berdecak dengar penjelasan kak mentari. “Kenapa pakai nangis sih, lebay banget.”
“Gimana gue gak sedih, bayu nanyain papanya dimana, dia nangis sampai ketiduran pingin ketemu papanya bi. Dia bilang, dia mimpi papanya minta tolong sama bayu sambil nangis nangis.” Kata kak Mentari yang airmatanya mengalir gitu aja ke pipinya. Gue tinggalin mereka dan menuju kekamar gue yang letaknya di lantai 2, kamar gue bersebelahan dengan bayu ponakan gue. Sebelum masuk kamar, gue intip bayu yang lagi tidur. Gue buka pintu kamarnya sedikit, dia lagi tertidur pulas. Kadang gue kasian melihat bayu, tapi gue suka benci kalau lihat dia. Akhirnya gue tutup pintu kamarnya dan gue masuk kekamar, berbaring menatap langit langit kamar. Kenapa semua ini terjadi sama keluarga gue? Pikir gue.
Paginya.
Gue siap siap buat jogging, minggu ini udara terasa sejuk sekali. Gue pemanasan
di teras rumah dan gue mulai lari pelan kearah taman depan cafe horizona,
sekarang pukul 05.30 suasana masih sepi. Hanya beberapa orang yang gue lihat
mereka sedang pemanasan dan lari kayak gue, sesampainya di taman gue duduk
disana sambil menatap langit langit yang mulai berwarna biru dan cahaya
matahari yang mulai bersinar. Gue bangkit dan lari lagi mengelilingi taman yang
cukup luas, pepohonan yang lebat, air mancur di tengah taman. Taman ini ramai
dikunjungi orang orang dan anak kecil yang bermain. Mata coklat gue bergerak
kesana kemari melihat sekeliling memperhatikan sekitar, orang orang yang lalu
lalang di taman. Langkah lari gue berganti menjadi jalan santai, udara sejuk
menyapu permukaan kulit gue yang basah karna keringat, dingin. Ntah kenapa
perasaan gue aneh semenjak bangun tidur tadi, seperti akan ada sesuatu yang
terjadi. Tapi apa? Akhirnya gue memutuskan buat duduk di tepi taman tepat
dibawah pohon yang rimbun, angin menerka lembut permukaan wajah, membuat rambut
yang terkuncir bergerak kesana kemari. Mata gue masih memperhatikan sekeliling,
sebuah taman. Taman?
“Hei Bintang?” Sapa seseorang cowok yang berdiri di
sisi kanan gue, dengan senyumnya yang merekah. Wajah putih bersihnya yang
tercampur keringat, mengingatkan gue pada seseorang yang dulu sangat dekat
dengan gue.
“Lupa sama aku yah?” lanjutnya. Dia duduk disamping gue dengan senyum yang masih menempel di wajahnya. Gue menerka wajahnya, mengingat, membuka kembali kotak kenangan dalam otak.
“Billy?” jawab gue ragu.
“Iya Bin, lama gak ketemu lupa sama wajah aku yaa?” tanyanya sembari cengengesan. Gue hanya tersenyum mendengar ucapannya, ntah gue harus senang atau kesal dia ada disini. Gue sendiri masih shock. Lagi lagi angin meniup lembut anak anak rambut gue yang gak ikut terbawa kekuncir, kita hanya saling diam, kaku dan canggung. Sejak kepergiannya yang mendadak, kita jadi jarang komunikasi bahkan makin lama kita makin gak ada kabar sampai sekarang. Sudah 8 tahun kita gak pernah ketemu, dia pernah mengirim email sama gue, ketika kita kelas 2 SMA waktu itu kita jarang komunikasi meski pun sesekali kita masih saling mengirim email. Itu email terakhir yang dia kirim ke gue, sebelum akhirnya benar benar menghilang.
“Lupa sama aku yah?” lanjutnya. Dia duduk disamping gue dengan senyum yang masih menempel di wajahnya. Gue menerka wajahnya, mengingat, membuka kembali kotak kenangan dalam otak.
“Billy?” jawab gue ragu.
“Iya Bin, lama gak ketemu lupa sama wajah aku yaa?” tanyanya sembari cengengesan. Gue hanya tersenyum mendengar ucapannya, ntah gue harus senang atau kesal dia ada disini. Gue sendiri masih shock. Lagi lagi angin meniup lembut anak anak rambut gue yang gak ikut terbawa kekuncir, kita hanya saling diam, kaku dan canggung. Sejak kepergiannya yang mendadak, kita jadi jarang komunikasi bahkan makin lama kita makin gak ada kabar sampai sekarang. Sudah 8 tahun kita gak pernah ketemu, dia pernah mengirim email sama gue, ketika kita kelas 2 SMA waktu itu kita jarang komunikasi meski pun sesekali kita masih saling mengirim email. Itu email terakhir yang dia kirim ke gue, sebelum akhirnya benar benar menghilang.
“ Gimana kabarmu sekarang bin?” katanya yang memecah
diam.
“ Seperti yang terlihat sekarang.” Jawab gue singkat.
“ Seperti yang terlihat sekarang.” Jawab gue singkat.
Aku
terlihat baik diluar, tapi hatiku sama seperti dulu Billy. Rapuh.
“ Rumah kamu masih sama seperti yang dulu?”
Gue hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya,
sambil melihat wajahnya sekilas. Perasaan campur aduk dan kalut, menjadi satu
“ Sejak kapan kamu datang kesini?”
“ Sudah cukup lama, mungkin sudah ada 8 bulan.”
“ Oh..”
“ Maafkan aku Bin.” Suaranya berubah menjadi lemah, suara yang terdengar merasa bersalah. Gue gak bisa apa apa saat itu, pingin pergi pun rasanya seperti di paku bumi. Sangat sulit, tapi untuk tetap tinggal pun gue gak kuat.
“ Sudah cukup lama, mungkin sudah ada 8 bulan.”
“ Oh..”
“ Maafkan aku Bin.” Suaranya berubah menjadi lemah, suara yang terdengar merasa bersalah. Gue gak bisa apa apa saat itu, pingin pergi pun rasanya seperti di paku bumi. Sangat sulit, tapi untuk tetap tinggal pun gue gak kuat.
“Ini untuk kamu Bin..” Billy, memberikan gue sekotak
coklat kesukaan gue. Dia gak lupa sama makanan kesukaan gue, coklat. Billy
selalu ngasih gue coklat kalau gue sedih, kadang dia kasih gue silverqueen
kecil dan kadang sekotak coklat yang papanya bawa, dia kasih ke gue. Kata dia,
coklat ini bisa menyembuhkan luka. Kalau makan ini, lukanya akan sembuh.
“ coklat masih jadi cemilan kesukaan kamu kan bin,
setiap aku lihat coklat aku selalu inget kamu bin. Kangen deh aku sama kamu,
aku kangen kita ke cafe coklat sama papa dan mama aku, semua serba manis, es
krim, cake, permen coklat, besokannya aku sakit gigi. Haha, kamu masih inget
kan bin?” kata billy, sembari tertawa. Gue ikut tertawa lihatnya bercerita
mengenang masa kecil kita, ya itu masa saat kita masih duduk di sekolah dasar.
Kelas 4 SD, saat terakhir kita pergi bareng.
“ Besok hari senin tanggal merah, aku akan datang kerumah. Kita pergi, kamu ada waktu?”
“ Mau kemana?”
“ Kesuatu tempat, aku akan jemput jam 9 pagi. Sampai ketemu besok yaa Bintang.” Sahutnya yang langsung bangun dari duduknya, dan mengusap lembut rambut gue, dan berlalu pergi menjauh. Gue memandang punggung billy makin menjauh dan hilang, dia datang?
“ Besok hari senin tanggal merah, aku akan datang kerumah. Kita pergi, kamu ada waktu?”
“ Mau kemana?”
“ Kesuatu tempat, aku akan jemput jam 9 pagi. Sampai ketemu besok yaa Bintang.” Sahutnya yang langsung bangun dari duduknya, dan mengusap lembut rambut gue, dan berlalu pergi menjauh. Gue memandang punggung billy makin menjauh dan hilang, dia datang?
Kamu
sama seperti dulu billy, aku merindukan kamu. Tapi aku membenci kamu, cinta dan
semua pria didunia ini.
***
Pukul
9 pagi, Billy benar benar menjemput gue tepat waktu. Dia udah gak sungkan lagi
datang kerumah, karna dulu dia sering banget kerumah, gak lupa dia bawa sekotak
coklat buat gue. Mama yang melihat Billy datang, kaget. Karna dia udah gak ada
kabar sama sekali semenjak hari itu, hari dimana Billy bilang dia akan pergi
disaat gue sedang berulangtahun, disaat gue benar benar gak mau jauh dari
sahabat yang selalu bikin gue nyaman. Billy mengemudikan mobilnya dengan sangat
hati hati dan awas, suasana didalam mobil hening. Dari pertama start berangkat
sampai sekarang, kita hanya diam. Sesekali saling curi pandang, bahkan buat
membuka omongan kita akan kemana pun bibir gue terasa dikunci. Akhirnya Billy
menyalakan radio, sang penyiar cuap cuap dan memutar lagu. Gue Cuma bisa
mendengarkan tanpa meresapi, yang gue lakukan adalah Cuma menguap.
“ Kamu ngantuk Bin?” katanya memecah kesunyian.
“ Iya, semalam aku gak bisa tidur.”
“ Yaudah, kamu tidur aja. Kalau udah sampai aku bangunin.”
“ Iya, semalam aku gak bisa tidur.”
“ Yaudah, kamu tidur aja. Kalau udah sampai aku bangunin.”
Gue mengangguk
mengiyakan, emang rasa kantuk ini gak bisa gue usir dari tadi. Mungkin karna
dinginnya AC, gue mengatur posisi. Bangku mobil gue mundurin ke belakang,
kepala gue mengarah ke Billy yang sedang menyetir melihat kedepan. Mungkinkah
ini mimpi? Dia hadir kembali, setelah aku benar benar gak butuh perlindungan
dari pria manapun, setelah aku benar benar membenci kaumnya. Musik di radio
makin lama terdengar semakin pelan, gue pun tertidur pulas sampai gak mendengar
apapun tapi.. siapa itu? Kayak ada yang manggil nama gue, suara yang gak asing
lagi. Suara yang beberapa bulan yang lalu mengganggu tidur gue, terasa dekat.
Tapi dimana dia kenapa gak nunjukkan wajahnya, apa dia marah soal kejadian
waktu itu? Rem mobil Billy membangunkan gue dari tidur pulas, lumayan lama gue
tidur. Gue mengatur posisi duduk, mengucek mata, melihat sekitar sambil
mengumpulkan sisa nyawa yang terbawa tidur tadi. Billy memandang gue, sambil
tersenyum. Dia mengambil handphonenya dan memasukkannya ke kantong celananya,
dia mematikan mesin mobil.
“Ayo turun Bin.” Katanya yang sembari membuka pintu
mobilnya. Wait, gue kayak tau tempat ini. Gue mengikuti jejak Billy, gue turun
dari mobil dan melihat sekeliling. Billy berada tepat disamping gue sekarang,
dia menarik tangan gue menyuruh mengikuti langkahnya. Gue berjalan
dibelakangnya, dengan keadaan tangan kanan yang dipegang Billy menuntun gue
berjalan. Tiba tiba kita berhenti di sebuah bangku taman, di ujung taman. Ini
adalah tempat...
gue langsung berhenti dan menarik tangan gue, gue gak percaya kita kesini. Billy langsung menoleh kearah gue begitu gue tarik tangan gue dengan paksa, keringat bercucuran, gue yakin muka gue udah pucat pasi. Gue lihat muka Billy yang kebingungan lihat tingkah gue.
gue langsung berhenti dan menarik tangan gue, gue gak percaya kita kesini. Billy langsung menoleh kearah gue begitu gue tarik tangan gue dengan paksa, keringat bercucuran, gue yakin muka gue udah pucat pasi. Gue lihat muka Billy yang kebingungan lihat tingkah gue.
“Ngapain kita kesini?” tanya gue panik.
“Loh emang kenapa Bi? Ini kan tempat favorit kita, tempat yang selalu kita kunjungi dulu.”
“Aku gak mau kesini, kita ketempat lain aja.”
“Tapi Bin, aku Cuma mau kita mengenang persahabatan kita dulu.”
“Enggak, kita pindah ketempat lain atau pulang?” sahut gue yang langsung berbalik, berniat buat pergi menjauh dari tempat ini. Tapi dengan cepat Billy menarik tangan gue sampai gue berbalik kearahnya.
“Bintang..”
“AKU GAK MAU KESINI BILLY, AKU TAKUT. AKU MAU PULANG !” bentak gue, air muka gue berubah memerah. Air mata gue menggenang dan jatuh begitu aja, angin meniup rambut gue menutupi wajah seolah dia tau gue gak mau ngelihat tempat itu. Billy kaget melihat reaksi gue, dia langsung memegang tangan gue lembut dan berjalan meninggalkan tempat itu. Gue melepas pegangan tangan Billy dan berjalan lebih cepat, gue berenti didepan mobil Billy. Mengusap dengan cepat air mata yang jatuh, menarik napas panjang.
“Loh emang kenapa Bi? Ini kan tempat favorit kita, tempat yang selalu kita kunjungi dulu.”
“Aku gak mau kesini, kita ketempat lain aja.”
“Tapi Bin, aku Cuma mau kita mengenang persahabatan kita dulu.”
“Enggak, kita pindah ketempat lain atau pulang?” sahut gue yang langsung berbalik, berniat buat pergi menjauh dari tempat ini. Tapi dengan cepat Billy menarik tangan gue sampai gue berbalik kearahnya.
“Bintang..”
“AKU GAK MAU KESINI BILLY, AKU TAKUT. AKU MAU PULANG !” bentak gue, air muka gue berubah memerah. Air mata gue menggenang dan jatuh begitu aja, angin meniup rambut gue menutupi wajah seolah dia tau gue gak mau ngelihat tempat itu. Billy kaget melihat reaksi gue, dia langsung memegang tangan gue lembut dan berjalan meninggalkan tempat itu. Gue melepas pegangan tangan Billy dan berjalan lebih cepat, gue berenti didepan mobil Billy. Mengusap dengan cepat air mata yang jatuh, menarik napas panjang.
“Kamu kenapa Bin, ada apa sama tempat itu?” tanyanya
yang berada disisi kanan gue, bersandar pada kap mobil. Gue Cuma bisa
menggeleng, menanggapi pertanyaan Billy.
“Jujur sama aku Bin, apa yang bikin kamu takut sama tempat kenangan kita? Apa karna kamu marah sama aku, karna aku pergi saat itu?”
“Pokoknya aku gak mau ketempat itu lagi.”
“Iya tapi kenapa? Cerita sama aku Bin, kitakan udah janji gak akan ada rahasia.”
“Jujur sama aku Bin, apa yang bikin kamu takut sama tempat kenangan kita? Apa karna kamu marah sama aku, karna aku pergi saat itu?”
“Pokoknya aku gak mau ketempat itu lagi.”
“Iya tapi kenapa? Cerita sama aku Bin, kitakan udah janji gak akan ada rahasia.”
Hari itu,gue pulang sama kak Mentari. Emang
ini salah kita yang pulang terlalu larut malam,dulu gue tinggal didekat situ.
Dirumah peninggalan papa. Kita berdua jalan lewati taman, karna gak ada taksi.
Tiba tiba, ada cowok datang menghampiri kita. gue dan kak Mentari udah panik,
tapi ternyata itu cowoknya kak Mentari, Roy. Dan dia dalam kondisi mabuk, Roy
mencoba buat ngerayu gue, dia berusaha buat menyentuh gue. Tapi gue selalu
mengelak dan kak Mentari juga mencoba menepis tangan Roy, dia mencoba
menyadarkan Roy. Tapi malah ngebuat Roy marah dan akhirnya menampar kak Mentari
sampai jatuh, gue yang ngelihat perlakuan dia gak terima gitu aja. Gue mencoba buat mukul dia
sampai jatuh, kak Mentari yang ngelihat langsung menarik gue dan berniat kabur.
Tapi sayangnya, kak Mentari ketangkap Roy. Dia menyuruh gue buat pergi dan
minta bantuan, begonya gue gak ngelakuin itu. Ntah setan apa yang merasuki Roy
saat itu, dengan sekuat tenaga dimencoba menyentuh tubuh kakak gue. Gue Cuma
bisa ketakutan, pikiran gue buntu. Gue Cuma bisa diam bersembunyi, gue melihat
air muka ketakutan kakak gue. Malam itu malam terberat buat kakak gue di taman
ini, dia kehilangan keperawanannya ditempat kenangan gue dengan Billy. Dari
situ gue lihat kakak gue kayak orang kehilangan akal, bahkan gue sendiri pun
merasakan hal yang sama, gue sampai gak masuk sekolah selama sebulan. Padahal saat
itu gue kelas 3 SMP. Gue takut dengan pria manapun, sampai gue mencoba membunuh
rasa takut itu. Roy bertanggung jawab, awalnya emang berjalan mulus. Sampai
bayu lahir dan akhirnya Roy jadi tempramental, dia suka mukulin kak Mentari
sampai babak belur, kadang sampai kak Mentari pingsan. Bahkan Mama pun dibentak
dan dilawan sama dia, gue pernah di pukul sama dia. Dari situ, gue gak suka
sama bayu dari umur dia 4 tahun, karna wajahnya mengingatkan gue sama bajingan
itu. Roy laki laki kedua yang menyakiti keluarga gue, dari situ gue yakin kalau
gak ada laki laki yang baik di dunia ini, tidak ada satupun bahkan seorang Ayah
pun. Ditambah lagi, Billy yang pergi menghilang.Cuma dia yang ada disaat gue
dipukulin papa, disaat mama bertengkar dengan papa, disaat semuanya kacau
balau. Gue gak tau harus mengadu
kesiapa, Cuma Billy pria yang gue percaya. Tapi dia menghilang, bahkan membalas
email gue yang tiap hari dikirimpun enggak. Mulai dari situ gue benci sama
Billy, orang yang merubah rasa benci terhadap Pria, Ayah gue sendiri. Berubah
menjadi rasa nyaman dan cinta sama dia, tapi dia lenyapkan begitu aja. Gue benci
Billy, Roy dan Papa!
Papa,
gue bersyukur dia tlah meninggal. HAHA, mana ada sih orang tua meninggal anaknya bersyukur? Setiap hari kerjaannya hanya memukul sampai
Mama terjatuh didepan kita, memakinya, memarahinya. Semenjak dia Jaya, semenjak
ada wanita penggoda itu ! keluarga berubah menjadi Neraka, bahkan saat itu saat
gue duduk di bangku 4 SD gue gak mau pulang kerumah. Sampai nangis, membengkak
mata. Tapi kak Mentari terus membujuk, gue takut papa. Takut dia marah, takut
dia memukul Mama, kak Mentari dan gue. Bersyukur waktu gue kelas 1 SMP dia meninggal, tak ada air mata ketika semua
orang memberi semangat. Gue memang menangis, sesaat ! Tapi setelah gue pikir,
lebih baik hidup susah tapi Mama, kak Mentari dan gue gak tertekan. Semoga Papa
diampuni dosanya oleh Tuhan, karna sudah melukai hati 3 perempuan yang harusnya
dia jaga dan sayangi ! aku sayang papa, sayang banget sama papa. Tapi aku juga
benci papa, aku rindu papa yang dulu. Aku ingin seperti dulu pa, papa yang
menyayangi kami, jangan sakiti kami pa.
“Ma.. maafkan aku Bin, aku gak tau. Maafkan aku.”
Suara Billy melemas, dia benar benar menyesal. Dia mengusap air mata di pipi
gue, dia menenggelamkan gue didalam pelukkannya. Pelukkan yang gue rindukan,
pelukkan sahabat yang berubah menjadi cinta. Bisakah persahabatan tanpa ujung
cinta, hanya sahabat saja. Bisakah? Pecah tangis gue didalam pelukkan Billy,
tangisan yang selama bertahun tahun gue simpan gak tau kapan tumpah dan
akhirnya terbuang semua didekapan Billy.
“Aku gak akan ninggalin kamu lagi Bin, aku janji.
Demi Tuhan Bin, maafin aku udah ninggalin kamu, gak ngasih kabar sama kamu.
Bukan niat aku Bin.”
gue melepaskan pelukkan dari Billy, menatap wajah pucatnya. Tangannya dengan lembut mengusap pipi gue yang basah. Ntah kenapa, gue percaya sama semua perkataan Billy tadi. Apa rasa benci gue udah hilang? Billy please stay with me, dont leave me alone (again). Wajah Billy berubah semakin pucat, dia seperti menahan rasa sakit.
gue melepaskan pelukkan dari Billy, menatap wajah pucatnya. Tangannya dengan lembut mengusap pipi gue yang basah. Ntah kenapa, gue percaya sama semua perkataan Billy tadi. Apa rasa benci gue udah hilang? Billy please stay with me, dont leave me alone (again). Wajah Billy berubah semakin pucat, dia seperti menahan rasa sakit.
“Billy kamu kenapa?” tanya gue yang mulai panik
ngelihat kondisinya, dia menyanggah tubuhnya di depan mobil. Gue langsung
membawanya masuk kedalam mobil, memasang seat
belt. Gue langsung berlari kebangku pengemudi, menyalakan mesin dan mencari
rumah sakit terdekat. Untungnya gue bisa mengendarai mobil, gak tau jadinya
gimana kalau sampai gue gak bisa nyetir. Gue panik, gue lihat Billy kesakitan,
lemas, dan semakin pucat. Ya Tuhan, Billy
kamu kenapa, please bertahan aku gak mau kehilangan kamu.
**
Kedua
orang tua Billy datang kerumah sakit, tempat gue membawa Billy dengan panik
kesini. Rumah sakit terdekat yang gue temui, dokter bilang dia ingin berbicara
dengan orang tua Billy dan dia bilang kalau gue bertindak cepat buat bawa dia
kerumah sakit. Kalau tidak... kalau tidak dia akan kehilangan nyawanya. Kedua
orang tua Billy langsung menemui dokter, gue nunggu di ruang tunggu. Didepan
ruang UGD, di tempat Billy sedang diperiksa.
Gue duduk dengan cemas, gue gak bisa berpikir jernih. Otak gue berputar
berpikir macam macam. Huuuuusssshhhh
pergi jauh jauh pikiran aneh, Billy baik baik aja. Tante Erna dan Om Hans
datang menemui gue, yang sedang gelisah dan gue langsung berdiri melihat
mereka. Mereka mengenal gue dengan baik, gimana enggak. Gue dan Billy berteman
baik dari kecil, sampai mereka pindah rumah dan Billy harus tinggal di Yogya
bersama Neneknya. Tante Erna tersenyum dan memeluk gue erat, gue tau itu senyum
sedih. Bukan senyum karna senang melihat gue lagi, dia mengusap rambut gue
lembut. Kita duduk bersampingan, Om Hans disisi kiri gue dan Tante Erna disisi
kanan gue.
“Makasih yah Bintang, untung kamu tepat waktu. Kalau
tidak, tante gak tau gimana harus kehilangan Billy.” Katanya dengan suara
sendu.
“Sebetulnya Billy kenapa tante, kenapa dia tiba tiba begini. Setau aku, Billy gak punya penyakit apa apa.”
“Billy Cuma kecapean Bin, dia belum sembuh sebenarnya.” Sahut om Hans.
“Emangnya Billy kenapa?” gue makin bingung, ada apa sih sama Billy, kenapa dia gak pernah ngomong.
“Sebetulnya Billy kenapa tante, kenapa dia tiba tiba begini. Setau aku, Billy gak punya penyakit apa apa.”
“Billy Cuma kecapean Bin, dia belum sembuh sebenarnya.” Sahut om Hans.
“Emangnya Billy kenapa?” gue makin bingung, ada apa sih sama Billy, kenapa dia gak pernah ngomong.
“Tanggal 2 bulan maret kemarin, Billy
berangkat dari Yogya ke Jakarta. Dengan maksud untuk bertemu dengan kamu
Bintang, dia bawa kado dan dia mau mengasih suprice buat kamu di tanggal 4 saat
kamu berulangtahun. Dia rindu kamu, dia bilang sama tante kalau dia udah
menunggu saat saat ini. Dia udah lulus kuliah tahun kemarin, dia ikut paket
cepat karna katanya dia menjadi mahasiswa terbaik di universitasnya. Dengan
mobilnya dia mengendarai dengan semangat, belum sempat sampai rumah padahal
tinggal sebentar lagi dia sampai. Tapi, mobil yang dikendarai Billy ditabrak mobil lain yang pengendaranya sedang mabuk.
Tante sangat shock mendengar telpon dari kantor polisi yang mengabarkan Billy
kecelakaan, mobil rusak parah, jok mobil yang Billy duduki rusak parah. Billy
koma selama 4 bulan, setelah siuman dia terapi selama hampir 2 bulan sampai
akhirnya dia merasa benar benar kuat. Kata dokter dia belum boleh beraktifitas
berat dan berpergian jauh sendirian, karna kondisi tubuhnya. Tapi dia gak mau
mendengarkan semua kata dokter, tante dan om. Dia bilang harus ketemu kamu,
harus bertemu kamu secepatnya ditaman. Makanya minggu pagi, dia pergi memakai
trainning. Karna kamu sedang merasa sedih dan membutuhkannya, begitu katanya.
Dia bikin novel tentang kamu bin, judulnya Bintang. Mungkin dia juga mau kasih
novel itu ke kamu, dia cerita pingin ketemu kamu buat ceritain semua tentang
novelnya, gimana jerih payah dia ngatur waktu antara nulis novel, tugas dan
skripsi. Tertera jelas nama kamu di dalamnya Bintang, bahkan ada foto masa
kecil kamu pakai seragam sekolah sampai kamu kuliah, seperti perubahan dari
waktu ke waktu. Dia selalu mengamati kamu bintang, lewat sosial media. Kadang
dia uring-uringan kalau kamu gak update apapun, kalau disuruh hubungi kamu dia
selalu menolak. Takut mengganggu kamu, kamu sibuk, atau hal lainnya. Dia sayang
banget sama kamu bintang, tante tau itu semua. Billy anak tante satu-satunya,
dia terbuka dengan tante walau pun dia laki-laki. Novel yang dia tulis atas
dasar rindu kamu, dari awal bertemu sampai akhirnya ingin bertemu kembali karna
lama gak berjumpa. Om sama tante juga senang bertemu kamu kembali, seperti
bertemu anak kami yang telah lama merantau. Anak perempuan tante.” -katanya
sambil tersenyum.
Jangan jangan, novel
yang waktu itu di pegang Andi itu novel karya Billy. Dan waktu itu Andi mau
bilang kalau novel itu tentang gue ..
**
“Ready?”
“Yups, ready” sahut gue semangat. Gue pamit sama Mama dan kak Mentari yang dari tadi menemani Billy ketika gue lagi siap siap. Billy mengendarai mobilnya, menyapu jalanan ibu kota yang ramai pengendara dan teriknya matahari siang. Kita tak secanggung pertama kali bertemu, rasa benci benar benar menghilang. Ternyata dia tidak benar benar meninggalkan gue, didalam mobil suasana hangat tercipta. Kita bernyanyi, ketika radio memutar musik kesukaan kita berdua. Senyum Billy merekah, gue gak pernah sebahagia ini. Seakan semua beban masalah gue sirna begitu aja, gue kayak menemukan hidup gue yang sebenarnya.
“Yups, ready” sahut gue semangat. Gue pamit sama Mama dan kak Mentari yang dari tadi menemani Billy ketika gue lagi siap siap. Billy mengendarai mobilnya, menyapu jalanan ibu kota yang ramai pengendara dan teriknya matahari siang. Kita tak secanggung pertama kali bertemu, rasa benci benar benar menghilang. Ternyata dia tidak benar benar meninggalkan gue, didalam mobil suasana hangat tercipta. Kita bernyanyi, ketika radio memutar musik kesukaan kita berdua. Senyum Billy merekah, gue gak pernah sebahagia ini. Seakan semua beban masalah gue sirna begitu aja, gue kayak menemukan hidup gue yang sebenarnya.
Aku
rindu senyuman itu, senyuman yang selalu membuatku mengingatmu. Tawamu dan
suaramu, bagai lagu tersendiri buatku. Aku berharap tak pernah bermimpi
memilikkimu, aku ingin kamu nyata buatku. Wajah itu, tidak akan pernah terhapus
dalam ingatan. Walau ingatan menua, bahkan sampai selamanya. Aku mencintaimu,
more than you know. Sahabat cintaku.
Bersandar pada mobil bagian depan menikmati senja
berdua, dipantai. Billy pernah berjanji sama gue dulu..
Bintang
kalau aku sudah besar nanti, aku punya mobil. Kita akan lihat senja bersama
dipantai, hanya berdua. Aku janji,nanti kita akan bermain disana dan kamu gak
sedih lagi.
Janji Billy saat kita kelas 5 SD, saat gue takut
karna papa memarahi Mama. Saat kita sedang di atas rumah Billy berdua, melihat
senja dari sana. Sekarang, janjinya dia penuhi. Kita melihat senja berdua,
ditemani sekotak coklat kesukaan gue yang dia bawa dari rumah.
“Billy..”
“Kenapa Bin?”
“Kenapa waktu itu kamu nekat mau ketemu aku, padahal kata dokter kamu belum boleh beraktifitas berat. Bahkan kamu bilang harus bertemu aku ditaman, karna aku sedang sedih. Padahal belum tentu aku ada di taman, dan dalam keadaan sedih?”
“Ntahlah Bni, aku memang gak sabar buat ketemu sama kamu. Sewaktu aku Koma, aku bermimpi tentang kamu Bin. Kamu datang tiap hari, kamu selalu sedih. Tapi begitu bertemu aku, kamu bahagia. Kamu cerita tentang apa yang kamu tau, tentang olahraga dan teman yang menyebalkan. Aku merasa dekat denganmu Bin, walau saat itu kamu lagi gak sama aku.”
“Makanya begitu aku sadar, aku dengan semangat terapi. Supaya aku bisa dengan cepat ketemu kamu, hati aku bilang. Aku harus minta maaf sama kamu, karna udah bikin kamu marah besar dan gak mau ketemu lagi sama aku. Kamu marah sama pertanyaanku.”
“Kenapa Bin?”
“Kenapa waktu itu kamu nekat mau ketemu aku, padahal kata dokter kamu belum boleh beraktifitas berat. Bahkan kamu bilang harus bertemu aku ditaman, karna aku sedang sedih. Padahal belum tentu aku ada di taman, dan dalam keadaan sedih?”
“Ntahlah Bni, aku memang gak sabar buat ketemu sama kamu. Sewaktu aku Koma, aku bermimpi tentang kamu Bin. Kamu datang tiap hari, kamu selalu sedih. Tapi begitu bertemu aku, kamu bahagia. Kamu cerita tentang apa yang kamu tau, tentang olahraga dan teman yang menyebalkan. Aku merasa dekat denganmu Bin, walau saat itu kamu lagi gak sama aku.”
“Makanya begitu aku sadar, aku dengan semangat terapi. Supaya aku bisa dengan cepat ketemu kamu, hati aku bilang. Aku harus minta maaf sama kamu, karna udah bikin kamu marah besar dan gak mau ketemu lagi sama aku. Kamu marah sama pertanyaanku.”
Mendengar celoteh Billy, gue langsung ingat sesuatu.
Tapi apa, kayak ada yang terlupa tapi gak tau apa.
“Lucunya Bin, aku ingat sekali dimimpi itu, kita
duduk berdua ditaman. Makanya waktu itu aku ngajak kamu ketaman kita, tapi
ternyata kamu trauma sama taman itu. aku minta maaf Bin, aku gak tau.”
“Taman, berdua, cerita.” Kata gue mengulang dengan pelan. Raut wajah Billy berubah bingung, dia menerka nerka raut wajah gue yang lagi memikirkan sesuatu.
“Kenapa Bin?”
“Gak kenapa kenapa kok, aku Cuma kayak ngerasa ada yang lupa aja.” Jawab gue santai.
“Bin, kamu sayang sama aku kan ?” Tanyanya, raut wajahnya berubah serius menatap wajah gue.
“Maksudnya?”
“Aku yang akan mengobati luka kamu dan membuka awan gelap yang menutupi kesedihan kamu, aku yang akan selalu menutup pintu ketika awan gelap datang, aku yang akan menghangatkan kamu. Aku yang akan membuka pintu ketika langit cerah, sampai langit senja datang” jawab Billy, yang masih menatap dalam bola mata gue. Mendengar kata katanya, gue langsung kaget setengah mampus. Kata kata itu, mimpi, cowok itu, pergi dan dia datang..
“Taman, berdua, cerita.” Kata gue mengulang dengan pelan. Raut wajah Billy berubah bingung, dia menerka nerka raut wajah gue yang lagi memikirkan sesuatu.
“Kenapa Bin?”
“Gak kenapa kenapa kok, aku Cuma kayak ngerasa ada yang lupa aja.” Jawab gue santai.
“Bin, kamu sayang sama aku kan ?” Tanyanya, raut wajahnya berubah serius menatap wajah gue.
“Maksudnya?”
“Aku yang akan mengobati luka kamu dan membuka awan gelap yang menutupi kesedihan kamu, aku yang akan selalu menutup pintu ketika awan gelap datang, aku yang akan menghangatkan kamu. Aku yang akan membuka pintu ketika langit cerah, sampai langit senja datang” jawab Billy, yang masih menatap dalam bola mata gue. Mendengar kata katanya, gue langsung kaget setengah mampus. Kata kata itu, mimpi, cowok itu, pergi dan dia datang..
Aku
yang akan mengobati luka kamu dan membuka awan gelap yang menutupi kesedihan
kamu, aku gak akan mengobatinya disini. Aku akan datang langsung ke kamu,
dengan begitu kita bisa bersama-sama lagi
Kata kata itu terngiang, memutar kembali memori
beberapa bulan yang lalu. jadi orang yang
datang ke mimpi gue, dia yang nemenin gue. Dia yang selalu bikin gue telat
bangun dan ganggu tidur gue, Billy. Bahkan dia sendiri gak sadar hal itu, dia
bermimpi dalam komanya? Gue yang selalu datang di dalam mimpinya. Ya Tuhan, apa
maksud semua ini? Jadi Billy selalu didekat gue, jadi selama ini dia udah
sampai ke jakarta buat ketemu gue, dia udah ketemu gue walau itu dalam keadaan
koma. Apa maksudnya kita akan selalu bersama. Billy, semua ini takdir Tuhan.
Jadi begini cara Tuhan mempertemukan kita kembali.
Gue memeluk Billy dari samping, dia tampak terkejut.
Lalu dia membalas pelukan gue, mengusap lembut rambut gue yang tergerai
panjang.
“Tuhan mempertemukan kita kembali dengan cara yang
unik, Bi. Aku rindu kamu, bahkan saat kamu gak ada disini kamu selalu datang
dalam mimpiku. Jangan pernah pergi dari aku lagi, kecuali Tuhan meminta salah
satu dari kita untuk kembali kepadanya.”
“Aku gak akan ngelakuin itu Bintang, udah cukup aku
menyesal sempat menghilang karna isu konyol kalau kamu udah bahagia dengan yang
lain, aku mundur, aku menyerah dan membiarkan kamu sendiri. Aku tetap bersama
kamu sampai kapanpun. Senja ini saksinya !” jawab Billy lantang.
Terimakasih
untuk semuanya, karna luka aku belajar, karna kecewa aku bahagia, karna masalah
aku dewasa, karna kamu aku tau cinta, di dalam kesedihan pasti berlapis
kebahagiaan, begitu juga sebaliknya. Karna senyummu aku tau kalau kebahagiaanku
hanya 5cm didepanku..
Karna
kamu juga, aku bisa menerima Bayu sebagai keponakanku. Walaupun awalnya aku
membencinya, karna dia seorang laki laki dan wajahnya mirip dengan papanya.
Semua musnah, memang benar Cuma kamu yang berbeda Billy. Sekarang aku bisa
lebih mudah menikmati hidupku, lebih dekat dengan keluarga, lebih mudah
bergaul. Aku jadi lebih mudah tersenyum dan tertawa, ternyata yang aku butuhkan
Cuma kamu. Teman, sahabat masa kecilku. Pengobat lukaku, cinta monyetku, bahkan
cinta sejatiku. Sekotak coklat, menjadi kenangan pertama kita berjumpa. Saat
aku menangis di taman karna terjatuh, kamu datang dan memberiku coklat itu.
kamu selalu bilang, kalau coklat bisa mengobati setiap luka dan aku selalu
percaya itu walaupun lukaku tak pernah sembuh, tapi aku percaya kamu Billy.
**
“Bintang, will you marry me?” kata Billy dengan
lantang, membuka kotak kecil berisi
cincin didalamnya.
“Yes, I do !” senyum merekah menempel lekat diwajah gue, sumpah demi apa aku bahagiaaaaaaa ....
“Yes, I do !” senyum merekah menempel lekat diwajah gue, sumpah demi apa aku bahagiaaaaaaa ....
---------
“Hei
gue Bintang,dunia gue kalut. Gue benci semua pria didunia ini, karna bokap gue
selalu memukuli, memaki Mama gue yang paling gue sayang. Tak jarang kakak gue,
dan gue kena hajarnya. Dia juga selingkuh dengan wanita penggoda, matre,
perebut kebahagiaan orang ! papa meninggal karna serangan jantung, dia shock
karna 3 surat tanah yang diluar kota, dijual oleh selingkuhannya, tanah yang
berhektar hektar. Cukup besar untuk membuat swalayan dan parkiran yang luas,tanah
perusahaannya. Sebelum meninggal dia meminta maaf ke kita semua, terlambat !! Gue
benci papa. Tapi Billy selalu ngebuat gue menepis kalau semua pria itu sama
aja, dia berbeda. Dia selalu bikin gue ketawa, selalu membawakan gue sekotak
coklat penyembuh luka. Tapi dia pergi menghilang, email terakhirnya diwaktu
kita kelas 2 SMA. Dia bilang sayang sama gue, dia bilang gak mau kehilangan gue
dan dia bilang cinta gue. Tapi nyatanya dia pergi tanpa ada kabar, walaupun gue
selalu mengirim email dia selalu gak bales. Dia bohong, gue benci dia. Dan Roy,
dia brengsek beraninya memukuli kak Mentari sampai babak belur, padahal kak
Mentari selalu mengalah dan memberinya uang, itu tidak cukup untuknya.
Bersyukur karna dia tertangkap polisi karna terlibat bandar narkoba, diringkus
dan mati dalam dinginnya penjara. Gue benci pria, gue gak percaya siapapun.
Tapi billy datang kembali membawa harapan, membuang kesedihan. Ternyata gue
tidak benar benar membencinya, mana mungkin gue membenci orang yang selalu
membuat nyaman, tertawa dan mengobati luka dari dulu. Aku menyayangimu Billy,
sungguh. Aku hampir kehabisan oksigen, ketika kamu melamarku di depan umum.
Saat aku tengah mengadakan acara meet and great untuk novel pertamaku. 2 tahun
setelah kita bertemu kembali, aku bahagia sampai tidak butuh lagi coklat
sebagai obat luka. Karna aku sudah menemukan obat yang sesungguhnya, I’m Yours
Billy.”
Yaps, kisah ini berakhir bahagia,
kenapa setiap akhir cerita tak jarang berakhir bahagia. Inilah mimpi setiap
orang, punya akhir kisah hidupnya Bahagia dengan orang - orang yang mereka
sayang, no no no ini bukan kisah nyata, ini real fiksi. But where ever you are,
I Love You Billy. Gak tau cerita sosok Billy seperti apa, manusia gak ada yang
sempurna. Ini lah Billy, ini lah gue Bintang, yang redup kemudian terang
kembali. Inilah kisah hidupku, pasang surut masalah hidup. Aku rindu papa, aku
memaafkanmu papa. Aku merindukan kasih sayangmu, aku rindu canda tawamu. Aku
rindu kita pergi bertamasya bersama, aku menyayangimu papa. Hari ini, 7 juli tepat 12
tahun papa meninggalkan kami semua. Aku mengunjungi makammu pa, sudah ku taburi
bunga dan ku siram, terlihat indah makam papa, tak lupa aku memanjatkan doa. Lihat disampingku, iya dia
Billy. Sebentar lagi kami akan menikah, papa masih ingatkan. Semoga papa
merestui kami, I LOVE YOU SO MUCH PA.
-THE
END-
"Tuhan memang sudah menuliskan jalan
kita seperti apa, takdir kita seperti apa. Tapi takdir bisa kita rubah, kalau
kita mau berusaha dan berdoa. Tuhan akan merubah apa yang di takdirkan untuk
kita, menjadi lebih baik lagi. Rencana Tuhan lebih indah dari pada rencana
kita, dekatkan yang mempunyai rencana maka kita akan mendapatkan kebahagiaan. Allahumma Amin."
***
Today
was a fairytale, I wore a dress
You wore a dark gray t-shirt
You told me I was pretty
when I looked like a mess
Today was a fairytale
You wore a dark gray t-shirt
You told me I was pretty
when I looked like a mess
Today was a fairytale
Today
was a fairytale
You’ve got a smile that takes me to another planet
every move you make, everything you say is right
Today was a fairytale.. – Today was a fairytale, Taylor swift.
You’ve got a smile that takes me to another planet
every move you make, everything you say is right
Today was a fairytale.. – Today was a fairytale, Taylor swift.