Kamis, 21 Maret 2013

WAKTU



Aku terus melangkah menelusuri detik yang terus berjalan.

detik, menit, jam, hari, bulan, takkan bisa berhenti dengan semaunya.

dentingan lonceng kala itu bernada amat sedih, burung burung berterbangan.

angin sejuk dari pesisiran datang dengan lembut menghembus tiap kali dia berada.

***

  Gadis cantik dengan geraian rambut nya yang hitam panjang dan sedikit ikal ini, tengah duduk di balkon menatap lurus ke depan. Tepat pada saat matahari tenggelam, iya hanya terdiam memandang langit senja kala itu. Merasakan semilir hangat nya angin yang berganti menjadi dingin dan menusuk hingga ke akar. Kini dia mulai berdiri, berjalan lurus ke depan tepat ke tempat besi kokoh yang mejadi pagar balkon itu. Dengan perlahan dia memejam kan matanya dan mengatur nafas silih berganti, membiar kan angin memainkan rambut nya kesana kemari.

"Senja hari ini bagus yah ve. " mendengar suara tersebut, ve langsung membuka mata dan menoleh ke arah suara tadi. Laki-laki itu tepat berada di sampingnya, memejamkan matanya mengikuti ve tadi.

"Kini hari telah malam ve, ayo masuk. Anginnya besar dan dingin, brr. " seraya menoleh kearah gadis yang di sebelahnya sembari menopang tangannya di dada.


Gadis itu hanya mengangguk patuh dan berjalan mengikuti langkahnya yang telah lebih dulu berjalan, yaa laki laki itu adalah kakaknya. Saudara kandung satu satunya, panggil sama Andro. Laki laki paruh baya itu kini tengah berkuliah di universitas indonesia semester II jurusan fakultas kedokteran.


Mereka hanya 2 bersaudara, ayah nya pendiri suatu perusahaan di jakarta. Mamanya meninggal sekitar 1 setengah tahun yang lalu, pada kecelakaan pesawat arah keberangkatan jepang-indonesia. Semenjak itulah, gadis kecil yang kini telah bersekolah di SMAN di jakarta ini, menjadi anak yang pendiam dan tidak pernah terlihat tertawa seperti dulu. Ve, dia dulunya gadis yang sangat aktif dalam berorganisasi, apalagi semenjak dia menjabat sebagai wakil ketua osis.


Siapa yang tak kenal ve, gadis ceria nan lugu ini sangat popular di sekolahnya. Selain cantik dan baik, dia juga anak nya cerdas. Dia aktif dalam ekstrakulikuler basket, sempat meraih beberapa piala dalam ekskulnya. Tapi semenjak kepergian mamahnya, ve menjadi anak yang suka menyendiri. Keluarganya bahkan kedua temannya Ochy dan Acha juga khawatir tentang perubahan yang di alami ve sahabat kecil nya itu.


Gadis yang berumur 15 tahun ini belasteran jepang-indonesia. Ibunya adalah orang jepang dan ayahnya orang indonesia asli kota malang, ve menguasai kedua bahasa tersebut begitu juga kaka dan papa nya.




***



13 0ctober 2011


Mentari siang menyapa dengan panas nya

siang itu angin yang hangat

membuang rasa kerinduan yang dalam

kesedihan kala itu takkan mereka mengerti

bagaimana rasanya.

matahari pun merasa takut karena kesedihan ini.

matahari lebih suka mengumpat di belakang tumpukan awan putih

yang tebal karna merasa risau dengan kesedihan yang pasti akan di rasakan semua orang.

***

" Ve, hari ini mama kamu pulang dari jepang yah ? " suara yang tak asing di dengarnya ini berasal dari seorang perempuan yang tengah duduk di depannya, dengan rambut lurus tergerai panjang.

" Iya chy, akhirnya selama 2 minggu mama pergi. Dia pulang juga " sahutnya sembari tersenyum kepada temannya. tapi ntah mengapa ada yang mengganjal di hati nya ve, perasaan ini dari tadi sangat mengganggu nya.

" Wah, banyak oleh oleh nih kayaknya. Haha " Sahut acha meledek ve.

" Haha tenang ajaa " sambar Ochy sembari mengedipkan sebelah matanya.

" Ahaaha, hm tapi kira kira mama udh sampai belum yah. " kata nya lagi.

" Telphone aja orang rumah ve, atau coba hubungi mama kamu. " sahut ochy

" Tapi aku gak bawa handphone semenjak kita ulangan, kalian bawa?"

   ochy dan acha menggeleng lemah.

" Mendingan kita langsung pulang aja ve. " sambung acha

 Mereka bangun dari duduknya dan siap melangkah kan kaki menuju rumah.


DEGG..


Tiba tiba ve memegang dadanya tepat di mana jantung nya berada. Dia meremas kemeja putih,
seragam sekolahnya. Ve, merasakan sesuatu yang aneh. Perasaannya terasa campur aduk, sulit untuk menjelaskan perasaan apa ini.
Darahnya terasa mengalir lebih cepat dan hangat, seketika itu, angin berhembus menerka wajah cantiknya yang dalam keadaan menunduk dan tubuhnya yang sedang berdiri mematung.
Dingin, hingga bulu kuduk ve berdiri. Ochy dan acha hanya diam dengan keadaan bingung melihat ve, yang seketika wajah nya menjadi pucat.
" Ve, baik baik aja kan? " Tanya acha yang khawatir melihat ve tengah memegang dadanya. " Dada kamu sakit ve? " tanya nya lagi.
" Tiba tiba perasaan aku kok gak enak yah? " Jawab ve yang masih memegang dadanya dan menatap kedua sahabatnya dengan perasaan heran.

***

    Kaki langit seakan tau apa yang akan terjadi, langit yang cerah dan awan putih yang menggembul. Kini berubah menjadi langit yang gelap, awan putih pun berganti menjadi abu abu pekat. ' sepertinya akan turun hujan ' . Mereka mempercepat langkahnya, tapi tetap saja mereka asik bercanda di jalan. Ve, melupakan perasaan yang sempat membuat nya resah. Tak lama mereka sampai di depan gerbang perumahannya, rumah mereka agak jauh dari gerbang utama perumahannya. ' Apa itu? bendera kuning? siapa yang meninggal? ' tanya ve dalam hatinya, semenjak melintasi bendera kuning itu mereka bertiga merasa takut, jantung nya memompa lebih cepat dari biasanya. Perasaan itu muncul kembali, ve mulai merasa gelisah. Ntah kenapa otak nya berputar memikirkan sesuatu yang negatif dan beberapa kali dia coba buang pikiran jelek itu. Dan berfikir, tidak akan ada apa apa. Tapi kenapa perasaan nya datang lagi dan ... siapa yang meninggal?

    Kini mereka mendekati rumah yang memasang bendera kuning, jarak mereka berdiri memang agak jauh. Tapi terlihat keramaian orang lalu lalang di sana, mereka memicingkan mata ke arah rumah itu sambil tetap berjalan perlahan. Tiba tiba mereka berhenti serentak, i-itu rumah ve. Bagaimana mungkin mereka lupa kalau itu rumah ve. Ochy dan acha menoleh ke arah ve berdiri, tapi sekarang dia tidak berada di posisinya lagi. Ternyata begitu menyadari itu rumah nya, ve dengan cepat berlari. Dia berhenti di depan rumahnya sekarang, memperhatikan sekitar rumahnya yang ramai para tetangga. Dia berharap, bibi nya yg meninggal. Karna sudah tua, jahat memang fikiran seperti itu. Tapi begitu lah harapnya ve yang tengah berdiri di depan rumahnya. Dari kejauhan teman temannya berlari ke arah ve, tapi dia sudah berlari lagi ke arah pintu rumahnya. Semua orang melihat ke arah ve, tapi dia tidak memperdulikannya.

" MAMA, PAPA, KAK !! " Teriak ve dari luar pintu, dia tidak berani untuk melangkah masuk. Dia berharap mereka keluar bersamaan dan berharap ini hanya lelucon.
" PAPA, KAKAK !!! " Teriaknya lagi.
" Ndo vela. " Kata wanita tua yang berada tepat di belakangnya dengan suara lemah. Ve langsung menoleh kearah suara tersebut, melihat sosok orang yang memanggilnya tampak kucal dengan mata sembabnya. Dia hanya menunduk tak melihat ke arah ve yang tampak bingung. ' Bukan bibi, terus siapa? ' tanya nya dalam hati.
" Ada apa ini bi, kenapa mereka semua ada disini? ohh mau nyambut mama dateng yah, bi bendera kuning nya? tolong cabut bi, aku gak suka." Kata ve, dengan suara yang gemetar.
" Oh ya, papa, mama sama kakak mana bi? mama udah pulang kan? Bi, jawab aku dong !! " Kini ve, mulai menjatuhkan air matanya. Kedua temannya langsung menghampiri ve, ochy mengusap punggung ve, mereka berdua juga mulai menitik kan air mata. Tapi mereka belum tau, sebetulnya siapa yang..

    Wanita tua itu adalah pembantu rumah tangga yang sudah lama sekali bekerja di rumah ve, sejak dia masih berumur 5 tahun. Bi Ina namanya, dia sudah di anggap keluarga sendiri di situ.
" Ndo, mamanya ... " Kalimat bi ina menggantung, membuat ve geram. Dia memainkan rok kotak kotak sekolahnya, sambil menahan air mata.
" Ve .. " Suara berat yang berasal dari balik punggung nya membuat dirinya terkejut. Dan dia langsung menoleh kearah suara itu, sontak ve yang melihat tubuh tagak dan bidang itu langsung memeluknya erat. Kedua sahabat nya hanya terdiam tak bisa berkata apa apa, melihat kedua kakak adik ini berpelukan. Pelukan duka, astaga sebenarnya apa yang terjadi. pikir acha.
Kakaknya ve, andromeda suigintou kunisaki. Terlihat raut wajah nya yang layu, dengan mata yang sembab. Kakaknya melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan ve menuju kedalam. Perasaan ve, semakin kacau tak terkendali. Ochy dan acha, serta bi ina mengikuti mereka dari belakang.

    Mata ve terbelalak, entah badai apa yang sedang menerjang nya dan entah tuhan merencana kan apa sampai cobaan seberat ini terjadi kepada keluarga nya. Tubuh ve kaku, kaki nya terasa terpaku ke dalam bumi. Sakiiiittt, itu perasaan yang dia alami sekarang. Dia tak percaya apa yang di lihat nya. Dalam sekejap mata, ve mulai meringis. Sakit, sedih, sesak, tuhaaaann. :(
" MAMA ....!!!! " Teriak ve sekencang kencang nya, hingga semua yang berada di sana terdiam dari mengaji nya.
    *HENING*
ve menghampiri jasad mama tercinta nya yang telah terbujur kaku dengan di tutupi kain, yang hanya terlihat cuma wajahnya. Bagaimana bisa, mama yang di tunggu tunggu kepulangannya, sekarang malah terbujur kaku dan tertidur untuk selamannya. Kedua temannya, kakak nya bahkan bi ina. Ikut menangis, tidak mungkin mereka tidak ikut menangis. Mama nya ve, adalah mama kedua bagi acha dan ochy.


" Mama, mama bangun ma. Mama ngapain tiduran disini? ayo ma bangun jangan tidur terus, aku udah pulang sekolah ma. Mama jangan pura pura begini, ve gak suka ma. MAMAA ,.. " Ve memeluk jasad mama nya, mengguncang sedikit tubuh mama nya yang tertutup kain.
" Ma.. mama bangun, jahat mama JAHAAATT. Mama kan janji sama aku gak akan ninggalin aku, bangun ma. " Kata nya lagi yang masih memeluk erat mamanya.
" Ve sudah ve. Mama sudah gak ada ve. " Kata kak andro yang berada di samping kiri ve, sambil memegang bahu nya.
" GAK MAU !!! " Suara ve meninggi, matanya langsung melayang menatap mata kakaknya dengan sinis. Kakaknya terkejut melihat tatapan ve, bagaimana bisa ve menatap dirinya dengan tatapan seperti ingin membunuhnya.
" JANGAN PISAHIN AKU DENGAN MAMA !! " Nada suara ve semakin meninggi, semua masih memandang ve dengan perasaan takut dan iba.
" Ve, jangan begitu nak. Allah lebih sayang sama mama, makanya mama di panggil oleh-NYA. " ve, menoleh ke arah sisi kanannya. Papanya menyentuh bahu ve dengan mata yang sembab dan lelah. Ve, menatap kedua manik papa nya. Ve melihat sekeliling, semua mata dalam ruangan menatap ke arahnya dengan iba.

"NGAPAIN KALIAN DISINI ?! MAMAKU MASIH HIDUP, DIA HANYA TERTIDUR. CEPAT KALIAN PERGI !! PERGI DARI RUMAH KU SEKARANG, PERGI. MAMAKU MASIH HIDUP !!! " Kata ve dengan nada yang lebih tinggi lagi, mencak mencak menyuruh mereka yang berada di ruangan itu pergi. Tapi tak ada satu pun yang bergerak utnuk pergi, mereka semua memaklumi sikap ve. Karna dia sedang merasa terpukul atas kepergian mamanya. Papa dan kakaknya membawa ve menjauh dari jasad mama nya menuju kamarnya. Tapi ve meronta tak mau. Bi ina dan kedua temannya membantu membawa ve ke dalam kamarnya. Akhirnya mereka berhasil menjauh dan masuk ke kamar ve dan kini para pelayat kembali memanjat kan doa.
Wajah alm. Ny. Sinku kanaria Kunisaki kini telah ditutup kembali.

***

    Ve masih meronta dalam tangis yang menderu. Tak tau apa yang harus dia perbuat, ve masih tak percaya kalau yang tadi dia lihat itu jasad mamanya. Mama yang dia tunggu tunggu kedatangannya, mama yang selalu tersenyum dan memeluknya, mama yang sekaligus teman ceritanya. Dan kini.. kini meninggalkan dia, untuk selama lamanya? Tidak, tidak mungkin. Ini pasti cuma mimpi, pasti pas dia terbangun dia melihat mamanya duduk di tepi ranjang sambil tersenyum padanya.

    Tangis nya terisak, sulit sekali untuk bernafas. Kini ve telah duduk di tepi tempat tidurnya, dia hanya menunduk merasakan nafas nya yang susah dengan isakan tangisnya. Terlihat di depan wajahnya kini, papa telah berlutut di hadapannya lalu memeluk ve dengan hangat dan erat. Tangannya mengelus pundak putri kecil nya yang kini telah beranjak dewasa. Airmatanya terus berjatuhan yang kini dalam pelukan papanya. Otaknya kembali memutar pertanyaan, 'mengapa ini terjadi? kenapa?' tapi kata kata itu tersanggkut dalam tenggorokannya, dia gak sanggup berkata, Ini adalah mimpi terburuk bagi nya, seakan dia tak menapakkan kaki di tanah.
" Ve.. " ucap papa nya yang memecah kesunyian di dalam ruangan tersebut sembari melepaskan pelukannya.
" Ve, papa tau kamu merasa terpukul dengan semua ini. Kamu sedih, kamu gak percaya kalau ini terjadi. Papa tau itu, kita juga merasakannya ve. Ini cobaan yang sangat berat untuk keluarga kita. Tapi Allah berkata lain ve, dia lebih kangen dan lebih mengingikan mama di sisinya. Semua yang berasal dari NYA akan kembali kepadaNYA. " Kata papa nya melanjutkan, nada nya teraa begitu berat dan berarti sekali.
" Ve, kamu sayang kan sama mama? " tanya papanya, ve hanya menganguk lemah sembari mengusap airmatanya yg jatuh ke pipinya.
" Kalau ve sayang sama mama, ve jangan kayak tadi lagi yah. Kasian mama, pasti mama sedih liat ve kayak tadi. " katanya lagi. dan ve hanya mengangguk saja.

    Ochy dan acha juga sangat terpukul akan kepergian mamanya ve, bagi mereka. Beliau adalah mama nya juga, dan begitu pun sebaliknya. Mamanya ve menganggap kalau ochy dan acha anaknya. Mereka berdua sesegukkan karna tangis yang tertahan dan emosional yang tak terluap kan, yang mereka mau sekarang adalah cepat nya waktu berlalu dan menjawab kalau ini cuma halusinasi mereka.
" Ve, mama mengalami kecelakaan pesawat tadi siang. Saat pesawatnya landing, kesalahan seorang pilot yang tidak memperhitungkan jarak nya. Pesawat kehilangan kendali dan terbolak balik hingga beberapa kali hingga keposisi yang seharusnya. Mama duduk tepat di badan kanan dekat sayap pesawat, kaca yang pecah menusuk mengenai tangan dan perutnya. Kaki mama yang kanan patah akibat terjepit bangku dan terputus... "
mendengar perkataan papanya tadi, ve mulai meraung kembali. Acha dan ochy pun tak kuat menahan air mata nya dan ikut menangis tersedu sedu, kak andro yang melihat acha dan ochy, segera memeluk mereka berdua. Andro menganggap mereka sudah seperti adik kandungnya, begitu pun sebaliknya. Andro pun ikut menangis tersedu.
" Mama sepat di bawa lari ke rumah sakit, saat itu mama masih dalam keadaan bernafas dan setengah sadar. Pada ada di samping mama saat itu, papa gak kuat lihat mama ngerasain kesakitan yang besar. " Papa nya ikut terisak karna tak kuat membayangkannya.


***

Tuhan..
aku kehilangan separuh jiwa ku.
bahkan separuhnya lagi, melayang ntah kemana.
Aku mencintai nya..
dialah orang yang membuat ku mengerti akan artinya kehidupan
dan kasih sayang.
ialah pelangi ku di kala hujan tlah berhenti
dan matahari lah yang memantulkan cahaya nya.
Tuhan..
aku tau kau lebih mencintainya
engkau ingin cepat cepat memeluknya kembali
tapi mengapa sekarang ? mengapa tidak dengan ku?

-----

" Ve, turun yuk " Kata laki laki paruh baya itu sembari melangkah masuk ke kamar ve dan mendekatinya. Sedangkan dia, yang memakai baju putih beserta kerudungnya, masih memejamkan mata dan memeluk bingkai foto mamanya. Pipinya di basahi hujan airmata, nafasnya tak beraturan menahan tangis yang menggelegar.
" Ve, jangan begini. Kakak juga sedih ve, kakak juga kehilangan mama. Tapi kakak belajar ikhlas. Kakak mau mama pergi dengan tenang dan mama bisa tersenyum melihat kita. " Kakaknya memeluk ve, kini dia benar benar menangis dalam pelukan kakaknya. dan andro pun ikut menangis, namun langsung dia usap airmatanya.
" Turun yuk " sambil melepas pelukkannya. " Kita antar mama ke rumah baru nya " katanya lagi sambil tersenyum.
ve hanya mengangguk dan turun dari kasurnya, menaru bingkai foto mamanya di meja samping kasurnya. Lalu lekas turun bersama kakaknya.
Pemakaman mamanya pun berjalan dengan isak tangis keluarga dan kerabat sekitar nya. Meski pun keluarga dari mamanya tidak datang karna jarak yang di tempuh sangat jauh. Satu persatu, mereka semua beranjak pulang dan tak lupa mengucap belasungkawa kepada keluarga duka. Kini yang tersisa di pemakaman hanya keluarga, kedua sahabatnya, bi ina. Ve duduk di sebelah batu nisan mamanya, memeluk, mencium nisannya. Tertera lengkap nama sang mama. SINKU KANARIA KUNISAKI BINTI MISUZU KAMINO KUNISAKI tgl lahir 28-maret-1968 wafat 13-0ktober-2010

" Ma, bangunin aku dari mimpi buruk aku, aku gak bisa bangun sendiri ma. Aku mau ikut mama... " kata ve sambil memeluk nisan mamanya.
" Sudah ve, kamu ikhlas yah ve. Kalau kamu begini terus, mama bisa sedih ve, biar mama tenang disisi tuhan." kata acha memeluk erat tubuh ve.

***

Langit seakan mengerti harus berbuat apa, matahari tak memberanikan diri untuk muncul. dia bersembunyi di balik tumpukan awan gelap, yang sesekali mengintip dari salah satu awan yang berada di dekatnya. Lama kelamaan, satu demi satu butiran kecil jatuh perlahan dari langit. Hujan menyapu dengan cepat permukaan bumi, seolah olah ingin menghapus semua kesedihan. Hujan kala itu adalah hujan pertama di musim dingin.
Dulu, ve sering menghabiskan waktu di dekat jendela bersama mamanya. Melihat sang langit menjatuhkan butiran permata nya ke bumi, membasahi setiap jejak kenangan setiap orang. Tapi kini sang mama telah pergi, tidak untuk kembali lagi. Ve, hanya menatap air hujan yang membasahi jendela kamarnya dalam diam. Dalam lamunan yang tanpa arah dan melayang. Mencari separuh jiwanya ...

***

10 April 2012

" Are you oke ve? " tanya ochy sambil menepuk punggung sahabatnya. Ve hanya mengangguk dan tersenyum .
" Dari tadi ngelamun aja, ada masalah ve ? cerita dong. " tanya nya lagi.
" I'm Oke " jawab ve sembari tersenyum lagi.

   Hari ini adalah hari pertandingan basket putra antar sekolah. Mereka sedang menonton jalannya pertandingan yang berada di sekolahnya, pertandingan kuater ke 2. SMAN 141 unggul 8 point, seseorang yang di sana sesekali memperhatikan ve. Pertandingan berlangsung panjang dan seru, sesekali penonton bersorak ketika bola masuk atau di kuasai oleh sekolahnya. Mereka bertanding 4 kuater, sekolah ve SMAN 141 sempat kalah jauh. Tapi beruntung nya mereka bisa mengejar dan bahkan unggul. Peluit panjang telah di bunyikan, wasit menandakan pertandingan selesai. SMAN 141 bersorak gembira, karna sekolah nya menang. Ochy dan acha terlihat senang karna sekolahnya menang, tapi hanya ve yang diam dan hanya tersenyum melihat kedua sahabat nya. Tiba tiba, pemuda yang menggunakan seragam basket SMAN 141 menghampiri mereka bertiga sembari tersenyum.Lelaki itu bertubuh tinggi tegap, berkulit kuning langsat dan berlesung pipi. Senyum nya yang manis dan wajah tampannya, membuat pesonanya semakin terlihat bahwa dia adalah sosok pria incaran satu sekolah. Selain itu dia laki laki yang cerdas dan berwibawa, di tambah lagi dia seorang kapten team basket putra. Panggil aja namanya, Rio.


" Keren banget sumpah yo. " Kata ochy sembari mengacung kan jempol kanannya dan tersenyum.
" Iya yo, apalagi pas tadi detik terakhir terus lo three point, aduh cakep yo. " Kata acha menyambar.
" Haha iya dong, makasih makasih. " Jawab rio sambil tersenyum. " Gimana tadi ve? Keren gak team putra? " Katanya lagi.
" Keren kok, keren banget yo. " Jawab ve sembari tersenyum dan rio pun membalas senyuman ve. Mata rio yang hitam dan bening membuat nya menjadi semakin manis dan tampan. W.A.O bgt deh
" Hm. Bagus dong yah kalau begitu, semoga pertandingan team putri berjalan dengan lancar dan memuaskan yah ve. " kata rio
" Gua balik kesana dulu yah, kayaknya pelatih udah mulai nyariin gue. Hehe, bye.. " Dia mengangkat ke 5 jari tangannya lalu pergi ke sebrang lapangan ke tempat teamnya berkumpul.

    Hari itu cuaca sangat cerah, sang mentari dengan semangatnya memancarkan panasnya. Sangat panas, angin berhembus dengan kencang dan angin pun membawa hawa panas dari sang matahari. Tapi, walau pun terik matahari menyengat. tidak mematahkan semangat mereka sang generasi muda untuk tetap bersekolah, berkonsentrasi penuh pada pelajaran yag berlangsung. Walaupun rasa kantuk menghantui mereka.

----

    Duduk di taman sekolah emang tempat yang paing nyaman untuk sendiri, ramai ramai bahkan menjadi tempat para siswa/siswi berpacaran. Haha dasar anak sekolah, gak lain dan gak bukan pasti datang kesekolah, salah satu tujuan utamanya juga ingin ke temu si doi. :D
Pepohonan yan tingi menjulang dan rimbun, bangku bangku yang di susun berhadapan yang di tengah tengah nya terdapat meja, tempat favorites para siswa dan siswi yang beristirahat. Yang kebetulan jarak antara taman dan kantin gak jauh, yaa ibaratnya kayak kepleset juga nyampe. Haha. Dan, tempat yang sering datengin itu bangku yang tepat di bawah pohon. Ve dan teman temannya sering duduk, ngobrol dan kadang ngerjain tugas kelompoknya di situ. Tapi, lebih sering dia duduk sendirian di situ, dia menulis dan menggambar disana. Kali ini terlihat cewek berambut hitam yang ikal dan panjang ini tengah duduk menyendiri di bangku taman sekolah, di temani dengan segelas es jeruk, sepiring nasi goreng dan 1 buah buku dengan coretan pena hitam di dalamnya. Goresan demi goresan tinta dia ukir dalam buku nya, sebuah kata yang terukir dengan indah, sesekali dia menyiduk nasi gorengnya dan mengunyahnya secara perlahan sambil membaca ulang tulisannya.
Suasana saat itu memang sedikit sepi, tidak seperti biasanya. Pelajaran saat itu sedang tidak aktif karna sekolah sedang mengadakan class meeting, sebagian siswa berada di lapangan untuk menonton dan mengikuti lomba untuk kegiatan siswa.


" Sendirian aja ve, yang lain mana ? " Katanya, sambil mengambil posisi duduk di depan ve. Sontak membuat ve terkejut dan langsung mengarah kan pandangan matanya.
" Hh.. rio ngagetin aja. Yang lain pada di lapangan. " Jawab ve, yang langsung mengalihkan pandangannya ke buku nya lagi
" Kenapa gak ikutan ve ? dilapangan rame banget loh "
" Gak ah panas. " Kata ve yang tersenyum sambil melihat kearah rio yang sudah berganti pakaian basket nya menjadi seragam sekolahnya.
" Iya sih, hari ini emang lagi panas banget. ehh lagi nulis apaan sih ve, serius banget. " Katanya sambil mencondong kan tubuh nya agar bisa melihat tulisan ve.
" Bukan apa apa kok, cuma puisi doang. " Jawab ve yang mengentikan menulisnya dan menutup buku nya juga pulpennya, kemudian menyeruput es jeruk miliknya yang tinggal setengah dan melanjutkan memakan nasi gorengnya.
" Kok udahan nulisnya? Karna ada gue yah, gue ganggu yah ve? sorry sorry, gue pergi deh. " Kata rio yang merasa tak enak.
" Ehh enggak kok yo, emang udahan, cape nulisnya. " Jawab ve sembari tersenyum.

    Ve menghabiskan makanan dan minumannya, tiba tiba suasana menjadi diam dan sepi. Kecanggungan terjadi diantara mereka, ve memain mainkan sedotan di gelas minumannya, sedangkan rio sibuk memainkan hpnya. Rio berfikir keras harus membuka obrolan apa supaya gak canggung begini, padahal biasanya rio gak pernah kehabisan kata kata kalau mengobrol dengan teman temannya.
Hampir setengah jam mereka berdua dalam keadaan diam, seperti layaknya orang yang baru pacaran atau kayak orang pacaran yang lagi marahan. Badan ve kaku, entah dia seperti enggan menggerakan badannya. Seolah olah ada macan yang siap menerkam nya kalau dia bergerak.

    Matahari memancarkan cahayanya di tengah tengah mereka, menembus rimbunnya pohon diatas sana. Sesekali matahari tertutup awan putih tebal yang berjalan seiring angin berhembus.


" Aahh.. " Rio mulai bersuara, membuat ve tersontak kaget dan langsung melihat kearah rio yang tengah bersandar di bangkunya. " Jadi diam diaman begini ve, haha. " Kata nya lagi. Ve, ikut bersandar di bangkunya, menarik nafas panjang. Sepertinya macan yang mengintainya telah pergi, haaaaa...
" Eh ve, ajarin gue bahasa jepang dong. " Katanya lagi sambil memajukan tubuh nya ke meja dan memangku dagu ditangan.
" Bahasa jepang ? minat emang ? " Tanya ve sembari menahan senyumnya.
" Minat minat, ajarin makanya " Jawab rio sembari mengedip ngedipkan matanya.
" Haha, apaan sih rio. Cacingan? mata nya kedip kedip gitu. Haha "
" Diih jahat banget, masa di bilang cacingan u.u " Katanya yang memasang wajah melas, ve hanya tersenyum pada rio.
" Ve, bahasa jepangnya ganteng apa ? "
" Mm.. ikemen "
" Makasih ve .. " Rio tersenyum jahil
" Ish apaan sih " Kata ve menahan tawanya.

    Siang itu ve menghabiskan waktu berdua di taman sekolah, sesekali dia tertawa kecil karna rio yang kepo sama bahasa jepang. Ve juga sering meledek rio kalau dia bertanya, jawabannya ngasal atau malah memuji ve. Ve tertawa lepas siang itu dan baru kali itu rio melihat ve tertawa, rio merasa senang, itu tanda nya ve mulai melepas bebannya secara perlahan.

----

Untaian kata yang terukir didalam nada
mengutarakan isi jiwa
episode demi episode perjalanan hidup
akan berjalan dalam dentingan waktu
ukiran nada kalbu
menggores kembali tiap luka
ungkapan yang tertulis
menjadi bait
menjadi satu dalam hembusan nafasku

" Akh dari tadi jawabannya gak serius terus nih ve " Kata rio sambil memasang tampang orang lemah kehabisan energi
" Itu serius yo "
" Huh. Saiteena yatsu ( dasar jelek ) " Jawab rio membuang muka.
" Nani ? ( apa? ) " Ve menekan nada bicaranya
rio nyengir jahil ke arah ve sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal sedikitpun. " Nandatte ( bercanda ) "

    Jiwa yang gelap di basahi air hujan, kini pergi menghilang dan berganti dengan cahaya yang terang. Sepertinya musim semi telah datang kembali dalam hidup ve, ntah sampai berapa lama akan bertahan. Semenjak kepergian mamanya, selain ke 2 sahabatnya ochy dan acha yang selalu di sisinya, rio juga turut selalu ada di dalamnya. Ve selalu menganggap rio hanya merasa iba melihat dirinya, ngebosenin dan gak asik, tapi ternyata jauh dari perkiraannya, rio itu anak yang asik. Mungkin karna dulu dia terlalu cuek dengan rio. Ve mulai menyukai rio, terlebih lagi dengan tatapan dan senyumannya yang membuat sejuk itu.

    Karna terlalu keasika mengobrol, mereka tidak sadar kalau di taman itu hanya tinggal mereka berempat dengan orang yang berada jauh dengan mereka. Angin tak henti nya berhembus lembut memainkan setiap helai rambut ve yang tergerai panjang.
" Ve .. ? "
" Kenapa yo ? "
" Itsumo made mo shiawase ni sasetainaa " Rio menarik kedua ujung bibirnya, dia tersenyum kepada ve. Kali ini senyumannya terasa berbeda, ve hanya terdiam tak merespon perkataan rio.
' ( aku akan bikin kamu bahagia selalu ) apa maksudnya? ' tanya ve dalam hatinya.

***

Dentingan musik dalam kalbu itu terdengar lagi
mengisahkan kenangan pahit dan manis menjadi satu
nada pernada mengisahkan rangkaian rasa
perasaan yang belum terungkap
sedangkan episode dalam naskah terus bertambah
aku menginginkan akhir drama
dimana aku mengetahui rasa apa ini sebenarnya

    Langit malam bertabur bintang, cukup membuat langit gemerlap. Udara malam terasa sangat dingin, ve masih duduk terdiam di jendela kamarnya. Alunan musik instrumen piano terdengar indah dalam kamarnya, dia suka bermain piano dan juga suka menulis. Dia mempunyai impian menjdi seorang penulis, hal yang selalu membat nya semangat menulis adalah kata kata dari alm mamanya. Dia suka memutar ulang memori otaknya di saat mamanya mengatakan kata kata itu.


^tak peduli seberapa sedihnya kamu, seberapa bahagianya kamu. Atau seberapa kaya nya dirimu dan semiskin apa dirimu, yang namanya impian atau pun cita cita, harus tetap di perjuangkan dan harus di wujudkan. Sama hal nya dengan cinta, harus selalu di perjuangkan walaupun rintangan di depan mata. Gak boleh berenti cuma karna keterbatasan atau kesedihan kamu, buah yang kamu petik dari hasil jerih payah dan semangat mu. toh kamu sendiri yang akan merasakan keindahannya, jadi harus tetap semangat dan yakin kalau kamu itu bisa. Buang semua fikiran jelek yang ada di dalam kepala mu karna itu hanya menyita waktu dan harapan.^

    Kata kata itu selalu ve ingat kalau dia merasa putus asa melanjutkan novelnya, tapi malam ini jari jarinya tak memainkan iramanya di atas leptop. Dia sedang asik dengan fikirannya sendiri, tentang kejadian tadi, tentang senyum nya, kata katanya dan tentang RIO ! ntah bagaimana sosok rio selalu ada di fikirannya semenjak kejadian tadi siang, apa dia tak punya kesedihan sampai senyum nya selalu menerbangkan kebahagiaan untuk orang lain atau bahkan untuk dirinya. Fikiran nya terus terbang menembus langit malam, tatapannya tak lepas dari bintang bintang dan bulan.

***

    Sabtu ini seperti biasa, papa dan kak andro gak beraktifitas kayak biasanya, mereka selalu meluangkan waktu nya di hari sabtu dan minggu dari kegiatan sibuknya. Ntah itu berkebun bersama, jalan jalan atau pun bermain game bersama. Papanya selalu melakukan hal yang menarik agar putri cantiknya bisa tersenyum dan merasakan kebersamaan keluarga. Kakaknya pun sama, lebih sering melakukan segala sesuatunya bersama keluarga atau pun ve di bandingkan dengan pacarnya, ve selalu tau kalau kakaknya selalu bertengkar dengan pacarnya karna dia lebih sering ada buat ve yang kadang merasa tak enak dengan pacar kakaknya. Yaa wajar aja sih, secara ve itu adik satu satunya dan dia di rumah sendirian, ada bi ina dan pembantu yg lain sih tapi tetap aja berbeda. Tapi terkadang mereka ber3 jalan nonton bareng, walaupun sebetulnya ve gak mau dan di paksa sama pacar kakaknya itu, lumayan deket sih mereka, ve juga setuju banget kalau kakaknya nikah sama dia nantinya.

    Kegiatan sabtu ini, nothing bgt. Bisa di bilang agak garing, gak kelatan kak andro ataupun papanya sibuk beresin taman atau pun main game ps. Bi ina pun gak keliatan lalu lalang di sekitar rumah, ve menuruni tangga dengan mata yang mencari cari sosok papa, kakak atau bi ina dan bi wita pembantu baru berapa bulan ini. Ve terdiam di ujung anak tangga, mencoba mendengarkan suara. Ve langsung berjalan kearah ruang belakang dan tentu saja di sana ada papa dan kakaknya yang sedang asik bermain badminton. Ve masih berdiri di depan pintu yang menjadi batas taman belakang dengan ruangan, disana terlihat papa dan kakaknya yang sedang semangat bermain sampai mereka hujan keringat. Dan ketika bola masuk ke area papa, andro teriak teriak girang.
" Yeah.. 20-15. Haha aku menang pa "
" Ahh.. papa kalah lagi, padahal dulu papa jagonya main badminton "
" Itu kan dulu pa, dulu sama sekarang kan beda " Kata andro sambil ketawa ketawa.

    Di taman belakang terdapat bale balean, modelnya semacam saung kayak di perkampungan gitu. Itu tempat bersantai keluarga, dulu mamanya ve yang minta di buatin tempat itu dan dulu mereka selalu berkumpul disana setiap minggu, sekarang memang masih tapi udah jarang. Dan yang pasti akan terasa berbeda dari sebelumnya.


" Eh ve, kapan datengnya? Sini duduk. " Kata andro sambil memukul mukul kayu saung menunjukkan kalau ve disuruh duduk di situ. Ve berjaan mendekati papanya dan andro, dia pun langsung duduk.
" Bi ina kemana? Bi wita mana? "
" Ohh...  tadi papa suruh beli makanan, kalau bi ika gak tau kemana, ikut bi ina kali " kata papanya sembari mengusap wajah nya dengan handuk kecil berwarna biru dongker.

    Well to the well, hari ini di habiskan waktu dalam saung. Disana mereka bercerita dan sesekali tertawa, ve hanya diam dan sesekali tersenyum melihat kakaknya bercerita. Hari semakin siang, tiba tiba ve merasa pusing dan sedikit kedinginan. Aneh, cuaca sepanas ini dia malah kedinginan. ck, ve meninggalkan saung dan menuju ruang keluarga. Ve merasa tak enak badan, dia membaringkan tubuhnya di sofa panjang dan memainkan jari nya di handphone tanpa keypadnya itu. Sampai akhirnya dia tertidur pulas, 1 1/2 jam ve tertidur dan pada saat itu kakaknya berjalan kearah ruang keluarga melihat ve yang sedang tertidur. Ve tertidur dalam keadaan meringkuk, wajah nya pun agak pucat, segera kakaknya menghampiri ve dan memegang dahinya. Panas, tapi tubuh ve menggigil. Andro memanggil papanya dan segera membawa ve menuju rumah sakit dengan mobil, papa nya mengemudi kan mobilnya dengan laju kecepatan yang tinggi. Semua tampak panik dengan keadaan ve, karna yang dia lihat tadi ve baik baik saja dan wajahnya tak sepucat sekarang. Terlebih lagi ve tak pernah seperti ini.

    Ve langsung di tangani dokter begitu sampai rumah sakit, dia langsung di giring masuk kedalam ruangan UGD. Mereka mulai berfikir macam macam, tapi fikiran itu langsung dibuang nya jauh jauh. Dokter yang memeriksa pun keluar ruangan dengan wajah standar nya.
" Gimana keadaan putri saya dok ?" Sambar papa nya begitu dokter menghampiri mereka.
" Ananda ve terkena Thypus abdominalis atau biasa di sebut tifus dan dia harus di rawat. " Begitu lah penjelasan sang dokter.
Dan tanpa pikir panjang, malam itu ve langsung di pindahkan ke kamar pasien, saat itu ve masih dalam keadaan tidurnya, ehh apa pingsan yah? Yaa terserah yang baca deh yah mau tidur apa pingsan, abis klo tidur masa gak kebangun sih. yaa pokoknya merem deh yah -_-

    Ve terbangun dari posisi tidurnya, dia melihat sekeliling dan di samping ranjang ada rio yang sedang tertidur di bangkunya sedangkan kepalanya kekasur. #Ifyouknowwhatimean... Ve mengamati ruang sekitarnya sekali lagi, dia merasa bingung karna tiba tiba dia berada di.. rumah sakit. Tangan irinya terinfus di pandanginya benar benar. Sekarang dia menyandar di bantalnya dengan posisi duduk, kepalanya terasa berat dan pusing. Dia juga merasakan keringat dingin di badannya, benar benar gak ngebuat nyaman. Ini pertama kalinya ve dirawat di rumah sakit, tanpa sadar ve terus mengamati sosok rio yang sedang tertidur pulas. Sinar matahari menembus kaca hitam rumah sakit dan membuat wajah rio tampah terlihat putih dan bercahaya, ve memperhatikan rio setiap tarikan nafasnya yang teratur. Ve melamun sambil menatap wajah rio, sampai seketika jantung ve berdegub kencang dan lama lama semakin kencang. ' Ada apa ini, kenapa jantungnya berdegub kencang gini. Sebenarnya aku sakit apa? ' Kata ve dalam hati sambil memegang dadanya, ve masih mengamati rio yang memakai kaos berlengan panjang berwarna abu abu dengan stelan celana jins.

    Ve melihat rio seakan akan rio adalah mangsaannya, perlahan tapi pasti tangan kiri ve yang terinfus bergerak menuju kepala rio. Dia mengusap perlahan rambut rio, lembut. Ntah apa yang di fikirkannya tapi yang pasti dia tersenyum lebar, tangannya turun ke dahi rio yang tertutup rambutnya. Telunjuk ve memiringkan rambut yang ada di dahinya. Ve tersenyum sambil memiringkan sedikit kepalanya kearah kanan, ve tidak pernah seperti itu sebelumnya. Sontak dia menarik tangannya dan bergelagat tidak terjadi apa apa karna baru saja rio terbangun dari tidurnya. Ve semakin degdegan, dia gelagapan dan salah tingakh. Mata nya kesana kemari mencari objek lain untuk dilihatnya. Ve memainkan kuku jari jarinya..


" Ehh ve kamu udah bangun, gimana udah baikan? masih pusing tah ve? " Tanya rio yang membetulkan posisi tubuhnya. ve hanya mengangguk pelan tak berani bersuara takut kalau nantinya suara dia terdengar gemetar.
" Kamu gak kenapa kenapa kan ve? Pipi kamu merah, badan kamu panas lagi ? " Tanya nya lagi sambil memegang dahi ve.Ve semakin malu dan bingung, kira kira rio tau tidak soal tadi dan pipi ini... merah bukan karna demam tapi maluuuu. Ve langsung memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. 'Ada apa sih dengan aku kenapa bisa begini? ' Tanyanya dalam hati.

" Tadi om sama kak rio nitipin kamu ke aku, katanya beliau mau pulang dulu karna harus ada yang dibawa. Kebetulan aku gak ada acara jadi aku jagain kamu deh sampai tadi ketiduran " Jelas rio sembari tersenyum seperti biasa.
" Eh iya ve, kata kak andro kamu belum sadar dari kemarin sore loh. mereka khawatir banget sama kamu, tapi syukur lah kamu sekarang udah sadar. Kamu mau makan ve? dari kemarin kan belum makan? " Jelasnya lagi. dan lagi lagi ve hanya mengangguk. Dengan sigap rio langsung berdiri mengambilkan makanan yang telah di sediakan oleh suster yang tadi datang ketika ve masih tertidur, rio memberi air minum kepada ve terlebih dahulu agar lambung nya tidak sakit karna belum makan dari kemarin sore. Dia menyuapi ve dengan lembut dan hangat, ntah rio memakai sihir apa sampai ve tiba tiba merasa aneh.
" Kamu kok tau kalau aku ada disini yo? " Tanya ve yang tampak ragu.
" Ohh, tadi aku nelphone kamu ve. Tapi yang angkat kak andro dan bilang kamu dirawat karna kena tifus. " Jawabnya.
" Aku tifus ? hm. "
" Iya kamu kena tifus ve, nih nyuap lagi. " Katanya sambil menyendoki bubur kedalam mulut ve.
" Tifus bisa bikin jantung berdetak lebih kencang juga yah yo ? " Tanya nya lagi sambil nyengir, haha.
" Jantung berdetak kencang ? " Tampak rio bingung.
" Haaa, gak tau yah yo. Yaudah lupain lupain, heee haha. " Melihat reaksi rio ve menjadi salah tingkah lagi dan sepertinya dia salah bertanya.
 

  Ve menghabiskan makan siangnya dan menutupnya dengan meneguk air putihnya. Lagi lagi ve mengamati rio tanpa sadar, rio melihatnya tampak bingung. 'Tuhan, kau ciptakan makhluk seindah ini. Kau datangkan malaikat untuk berada disamping ku sekarang, Dia begitu berbeda, sihir apa tuhan yang dia berikan kepadaku hingga dia tampak begitu indah dengan senyumannya. ehh apaan sih aku, ish enggak enggak. kenapa sih aku tuhaann. ' Ve menggeleng gelengkan kepalanya sambil menundukan kepalanya.
" Kenapa ve? " tanya rio " Haa? eng.. enggak jenapa kenapa yo. " Jawab ve yang lagi lagi merasakan salah tingkah dan jantung nya mulai berdebar lagi. " Tadi anak anak juga pada kesini loh ve, tpi kamu nya masih tidur. " " Anak anak? siapa aja ? " " Ochy, acha, sama anak anak basket. " Jawab rio singkat, dan ve hanya mengangguk saja.

---

  Detik, menit, jam dan hari terus berjalan. Gak kerasa udah hampir seminggu ve berada di rumah sakit dan selama itu pula temannya silih berganti datang, tak ketinggalan dengan rio yang kerap hadir. Dan sekarang waktu nya ve pulang kerumah karna dia sudah sembuh, hari senin dia mulai ulangan tengah semester. Gak kerasa waktu cepat sekali berjalan, dan sabtu ini ve harus bekerja keras menyalin catatan dan belajar dengan tekun karna dia sudah ketinggalan jauh pelajarannya. Sesampainya dirumah, ve langsung masuk kekamarnya dan membuka buku catatan temannya, dia segera menyalin semua catatan itu. Padahal dia baru pulang dari rumah sakit dan tadi di perjalanan sudah di ingat kan sama papa nya kalau dia beristirahat dulu nanti sesampainya dirumah, tapi ve tidak mendengarkan perkataan papanya. Kak andro masuk ke kamar ve tanpa mengetuk pintu, ve terkejut dan menggerutu karna ulah kakaknya. Tapi bukannya meminta maaf, kak andro malah memarahi ve yang tidak mendengarkan kata kata papanya. Kak andro mengambil alih kerjaan ve, dia menulis semua catatan yang berada dimeja belajar ve. Lumayan banyak, karna di setiap pelajaran pasti ada tugas mencatat.

   Andro mulai terasa lelah, tangan kanan nya pegal semua. Urat nya seperti di tarik keatas, tapi dia senang melihat tugasnya telah selesai. Dan ketika menoleh ke arah kasur, ve tengah tertidur pulas sembari memeluk boneka panda nya. Andro tersenyum kecil melihat adik nya yang tertidur dan dia melihat jam yang terletak di dinding kamar ve, astaga udah jam setengah 7 malam. Dia menulis selama itu, dari mulai jam 4 sampai jam set 7. Andro menarik nafas panjang, memijit tangan kanannya. Langsung dia bergegas keluar kamar ve setelah membereskan buku milik adiknya.

***

  Hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester, semua pelajar telah menyiap kan diri untuk ujian ini. Alih alih ada yang tengah menyiapkan contekannya, ada yang menulis dan melipat kertasnya jadi kecil, ada yang menulis di papan ujian, ada yang menulis di balik kartu ujian dan ada juga yang menulis di kertas dan dilipat lalu di jepit dipapan ujian dibalik kartu ujian. Yaa you know lah, hal ini emang sering terjadi di setiap ulangan. Semacam, hal biasa. Semua pelajar juga pasti melakukan hal ini, dan guru guru pun pernah melakukan hal ini atau sekedar bertanya jawaban kepada teman. Kadang hal ini yang sangat di rindukan oleh pelajar yang sudah lulus sekolah, just like me haha :')

  Ujian hari pertama berjalan dengan lancar, biasanya hari pertama itu jarang yang mencontek karna baru pertama ujian. Tapi kalau sudah hari kedua dan seterusnya, tak jarang yang tidak melakukan ritual mencontek. Dan tak jarang pula di dalam ruangan terdengar seperti ada desisan seperti ular, sssttt... hahaha.. sesekali mereka ketauan oleh pengawas dan di panggil namanya juga di catat namanya di buku yang telah pengawas bawa, terkadang ada pengawas yang galak sekali sampai mereka yang tengah ujian tak bisa bergerak. Dan bahkan kalau ada yang ketauan mencontek kertas ulangannya pun tak segan segan untuk di robek. Aaaauuww..


   Biasanya pengawas yang bikin mereka susah mencontek itu, guru BK dan guru guru yang terkenal galak. Inilah yang biasanya bikin mereka tegang, apalagi pas pelajaran nya sulit dan ternyata pengawas nya yang gak bisa leluasa bergerak. Rasanya nya tuh nyesek, galau, frustasi bawaannya pingin ke kamar mandi. Haha agak lebay sih yah...

  Well to the well, kita percepat waktu ujiannya aja sampai mereka selesai ujian dan remedial. Sering kali mereka yang kena remedial itu di pelajaran, bahasa indonesia, matematika, bahasa inggris atau ips. Yaa pokoknya yang sulit lah, kadang mereka suka berfikir. Buat apa ulangan kalau ada remedial, hmm. Yaa buat memperbaiki nilai yang jelek kan. Tapi anehnya, yang namanya remedial itu mengerjakan soal kembali atau mengulas kembali. Tapi ada aja remedial yang aneh aneh, bukannya mengerjakan soal, ini mereka malah di suruh membeli sesuatu atau membuat sesuatu untuk di nilai guru. Aneh bukan? Coba, apa hubungannya remedial dengan membeli barang atau membuat makalah. Yang ada, bukannya kita semakin bisa malah semakin malas. Kebanyakan remedial malah ngeluarin uang banyak dari pada menambah ilmu lagi, pff.. Ups, sepertinya ini menuju kecurhat yah bukan tentang jalan cerita diatas. Haha, oke dehh lanjuutt...

***


  Selang 2 minggu mereka melewati hari hari melelah kan, ujian dan remedial. Remedial itu membuat otak mereka berkerja lebih keras, semacam mesin. Terlebih lagi, usai mereka ujian, mereka kembali belajar seperti biasa. Memang kadang ada guru yang berbaik hati gak mengasih tugas atau sekedar menerangkan, mereka malah bermain di dalam ruang kelas. Dan sekarang adalah minggu ke 4 usai mereka ujian, mereka telah mendapatkan hasil rapot sementara hasil ujian kemarin. Ve mendapatkan nilai yang gak begitu buruk, bahkan dia berhasil masuk 5 besar dan dia di urutan ke 4.


  Masa masa itu telah berlalu, dan sekarang tugas tugas dari guru mulai berdatangan silih berganti. Mereka juga suka mengerjakan tugas berkelompok, pastinya ve bersama kedua teman kecil nya dan teman kelas lainnya. Hari ini seperti biasa, angin berhembus memainkan rambut dan rok anak perempuan yang tengah berdiri dan duduk di kantin juga di taman. Dan seperti biasa juga, ve bersama teman temannya duduk di bangku taman tempat biasa mereka berkumpul. Mereka bertiga sedang asik mengobrol dan memakan makanan yang mereka pesan di kantin tadi, sesekali mereka menyeruput minumannya. Hari ini terasa agak panas, walaupun angin tak hentinya berhembus dan taman tertutup pohon besar yang rimbun.


 " Ochy, acha, ve.. " Teriak teman sekelas mereka bernama Clara menghampiri mereka. " Kenapa ra ? " Tanya ochy. " Tau nggak tau nggak, kita kedatangan murid baru pindahan dari bandung loh. Gannteenngg banget anak nya. " Jawab clara yang terlihat menggebu gebu sembari tersenyum. " Iya? Kelas berapa, masuk kelas mana dia, namanya siapa? " Tanya acha yang tertarik dengan pernyataan clara. " Dia seangkatan sama kita dan dia masuk kelas Ipa 3, namanya itu Galang Adhiputro. Sumpah ganteengg.. " jelasnya " Waelah clara, bilang gantengnya sampai segitu nya. Jadi penasaran gue. " Ochy mulai penasaran dengan pernyataan clara yang heboh. " Dan denger denger sih yah, dia sepupunya Rio. " " RIO?? " Serentak mereka bertiga berteriak bersamaan. " Iya? " Terdengar suara laki laki dari belakang bangku ochy dan acha yang membelakangi kantin. Mereka semua sontak langsung melihat kearah suara tadi, dan ternyata ada rio yang tengah berdiri tepat di belakang bangku ochy dan acha bersama dengan anak baru itu.

Mereka kaget bukan main, seketika mereka menjadi speechless. Rio pun tampak bingung, dia langsung duduk di samping ochy bersama dengan galang, anak baru yang tadi clara bicarakan.

"Ada apasih? Tadi manggil nama gue, lagi pada ngomongin gue yaahh? " Ujar rio yang sembari tersenyum. " yee kepedean bgt rio, udah ah gua cabut dulu. " Jawab clara yang langsung meninggalkan mereka semua. " Ohh iya, kenalin nih. Galang, anak baru di sekolah kita. dia anak ipa3, sepupu gue pindahan dari bandung. " Kata rio yang memperkenalkan sepupunya kepada ve, ochy dan acha. " hey gue ochy "

" gue acha " " ve " mereka saling berjabat tangan satu persatu. Galang pindah posisi duduk menjadi di samping ve yang duduk sendirian, galang memperhatikan ochy dan acha. " Kalian kembar yah? " tanya galang kepada ochy dan acha. " Hah? enggak, kita sepupuan. Cuma nama panggilannya aja yang hampir sama " Jawab acha sembari tersenyum lebar. " Ohh, di kirain kembar. Abis, wajahnya mirip. " ujar galang yang tersenyum manis. " Namanya juga saudaraan lang " Ujar rio “ Berarti kita mirip dong yo? Tapi kayaknya tetep gantengan gue deh, haha. “ ledek galang, sembari terkekeh.

     Mereka semua pun mengobrol bersama, bercanda dan bertanya tanya kepada Galang tentang sekolah baru nya. Mereka menghabiskan waktu berkenalannya di taman sekolah, dan kebetulan hari ini adalah class meeting. Jadi mereka lebih lama di bangku taman sekolah, baru kenal dengan galang beberapa jam yang lalu mereka sudah terasa hangat dan akrab sekali dengan nya. Tak sesekali mereka saling meledek satu sama lain, dan kali ini ve terlihat sangat berbeda. Dia tertawa dengan yang lainnya, dia pun ikut meledek temannya. Seperti ve yang dulu.

***

     

Lama sudah mereka saling dekat dan kenal. Gak kerasa mereka sudah 3 bulan berteman dengan Galang semenjak kejadian di taman sekolah waktu itu, dan kedekatan ve dengan galang berjalan dengan baik. Bahkan tak jarang mereka pergi berdua untuk ke toko buku atau hanya duduk-duduk saja di cafe yang menjadi tempat favourite ve sejak lama, cafe Sagitta cookie. Ve sering ke café itu dengan kedua temannya dulu, namun sekarang mereka jarang pergi bersama. Semenjak ada nya galang di kehidupan mereka, ve berubah. Dia terlihat lebih bersemangat dari biasanya, kedua temannya merasa kalau mereka saling suka. Galang juga suka kasih bunga mawar putih ke ve, dan semenjak ada galang pula, sosok rio menghilang dari hidupnya. Padahal dulu dia yakin kalau dirinya suka dengan nya, tapi ve juga merasa bingung tentang perasaannya kepada galang. Dia gak merasakan apa apa ke galang, dan dia juga bingung. Apa galang suka dengannya? Tapi kenapa sikap nya ke ochy hamper sama ke dirinya.

      

Ve membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya yang berseprai doraemon, dia memeluk bantal gulingnya dan menatap langit langit kamarnya yang berwarna cream. Iya menjadi memikirkan hal ini beberapa hari ini, dia berfikir apa ochy suka dengan galang? Apa sebaiknya dia mundur saja demi ochy, tapi kalau ochy sebenernya gak suka sama galang gimana? Yaa gak gimana gimana, hmm. Seketika dia mengigat kejadian di rumah sakit waktu itu bersama rio, jantung berdegub cepat dan ada perasaan aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya. Ntah apa itu, dia sendiri gak tau apa perasaan itu. “Rio..” suara yang keluar dari bibir tipisnya terdengar lirih. “Hah, apa ve?” sontak suara itu membuat nya terkejut dan langsung lompat dari kasur nya menjadi posisi duduk dan menghadap kearah suara itu berasal, dari depan pintu kamarnya yang sekarang terbuka dan terlihat lah tubuh kakaknya sedang berdiri disana. “Hhhhhh…..” hanya terdengar suara hembusan nafas lega nya, iya kira tadi itu suara rio. Tapi bagaimana mungkin juga rio ada di rumahnya, ckck. Ve meniup poninya dan tatapan matanya terlihat jengkel ke kakaknya, dia langsung membaringkan tubuhnya kembali dan menutup wajahnya dengan bantal.

“Yee ve, jangan tiduran lagi. Ayo bangun, papa udah nunggu di meja makan tuh. Kita makan malem bareng….” Ujar kak andro yang sekarang udah di sisi ranjang ve dan menarik tangan ve, sehingga di terbangun dengan rambut yang acak acakan.

“Ayoo bangun, kasian papa tuh udah nuggu.” Kak andro menarik sekali lagi tangan kiri ve. “Iya baweell…” jawab ve dan mulai beranjak dari kasurnya dengan ogah ogahan.

       

Ve menikmati makan malamnya, bertiga dengan papa nya. Hidangan yang lezat telah di siap kan oleh bi ina dan bi wita pembantu mereka, mereka bertiga jarang menghabiskan waktu makan malam bersama karna papanya dan kak andro sibuk dengan urusannya masing masing. Setelah habis makanan malam nya, ve langsung pergi ke kamarnya kembali dan duduk di dekat jendela kamarnya menatap langit yang gelap tak ada bintang hari itu. Tiba tiba sosok rio terlintas lagi dalam fikirannya, dia berharap segera menemukan jawaban semua ini. Ve memejamkan matanya dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, nafasnya terasa berat. Dia langsung beranjak dari duduknya menuju kasur nya dan berbaring, dan tak lupa dia menyalahkan lampu kecilnya yang berbentuk Winnie the pooh memegang payung dan mematikan lampu utama kamarnya. Dan dia pun tertidur….

Mungkin ve benar benar mengharapakan jawaban yang selalu terlintas di otaknya, dan jawaban itu pun akan terjawab semuanyaa…

----

“Hah? Lu nembak ochy? Yakin?” Tanya ve dengan serius, dia terkejut dengan pernyataan seseorang yang berada tepat di depannya. Dia berada di taman tempat biasa dia duduk, duduknya membelakangi kantin.

“Ya yakin lah ve, masa gue mau main main. Gue tuh udah meratiin dia sejak pertama kali kenal dia, dia tuh anaknya lucu, baik banget dan hangat. Gue suka sama dia ve, suka bangeeet!” ujar galang sembari tersenyum dan sedikit malu.

Padahal ve kira, galang suka dengannya karna selama ini galang berlaku baik dan hangat dengannya. Dia pun perhatian, memang sih selama kalau jalan kadang galang tak henti hentinya bicarain ochy. Tapi ve kira itu karena ochy adalah sahabat dekatnya.

“Nah itu dia ve, ochy nya. Dia mau kasih jawaban hari ini katanya, wish me luck yah ve. Semoga dia nerima gue jadi cowonya.” Celotehnya sambil berdiri dan menghampiri ochy dan acha tak ketinggalan di situ ada rio, ve mengikuti langkah galang dari belakang. Mereka sekarang berdiri tak jauh dari tempat duduknya tadi.

“Gimana chy?” Tanya galang yang sedikit gusar.

“Disini? Rame begini gpp?” ujar nya yang sedikit ragu.

“Yaa kenapa enggak, kita semua kan temen. Jadi gimana?”

“Begini yah galang, tadinya gua piker lu itu suka sama ve. Yaa walaupun gua liat sikap lu ke gua juga gak jauh beda, tapi gua liat nya begitu. Dan gue liatnya, ve juga begitu.” Jawab ochy yang tampak ragu.

“Gitu gimana chy? Gue biasa aja kok, kita Cuma temen.” Kata ve yang terlihat santai dengan wajah yang seperti waktu itu lagi, flat.

“Hahaha jadi salah paham nih, gue gak ada apa apa chy sama ve. Kita Cuma temenan doang, kadang gue suka cari informasi sama ve. Dia tau itu kok, lagi mana mungkin sih gue ngerebut inceran sepupu gue sendiri si rio.” Kata galang yang sembari melirik kea rah rio. “Heh lu kok jadi bawa bawa gue sih lang.” celetuk rio. Sedangkan galang hanya tersenyum dan ve sedikit menundukan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke acha.

“Ohh gitu, kalau begitu gue terima lu. Hihii…” Ujar Ochy dengan semangat. Galang senang bukan main, dia tak percaya kalau ochy menerimanya. Acha yang melihatnya ikut merasa senang, suasana nya jadi canggung galang dan ochy hanya senyum senyum gak jelas dan saling pandang sedangkan ve harus sesekali menundukan sedikit kepalanya karna dia melihat kearahnya.

Tapi aneh, ve memang merasa kecewa dengan galang. Karna dia merasa di bohongin, entah emang di bohongin atau memang dirinya lah yang kepedean. Tak kerasa bell masuk pun berbunyi, galang mengajak ochy dan acha berjalan menuju kelas. Rio hanya menatap ve seakan berkata “ayo ve ke kelas” tapi tak ada kalimat itu yang keluar dari bibir rio, dia malah ninggalin ve sendirian. Ve berbalik arah menghadap bangku taman yang tadi dia duduki, dia mendekat dan mengambil buku juga pulpen yang tergeletak di atas meja. Kini rasa kecewa menghampiri ve, ntah mengapa. Sedangkan tadi dia melihat galang dengan ochy biasa aja tapi kenapa sekarang… perasaan aneh itu muncul lagi, bercampur aduk menjadi satu dan mengalir melalui darahnya kesekujur tubuh. Huh …

      

Ve membalikan tubuhnya berniat untuk melangkah menuju kelasnya, dia merundukan kepalanya membenarkan roknya. Dan seketika terdengar “Gue sayang lu ve” dia terkejut dengan ucapan tadi dan langsung melihat orang yang mengucapnya tadi yang sedang berada tak jauh di depannya. Ve merasa degdegan, ketika yang dia lihat itu adalah rio. Padahal tadi kan dia udah berjalan menuju kelas..

“Anata no koto suki desu.” (gue suka sama lu) *kata yang biasa dipakai orang jepang untuk mengatakan cintanya*

**HENING**

Hanya terdengar suara angin yang bertabrakan dengan pohon di atas sana, dan memainkan rambur ve yang terurai. Ve terdiam dan tak bergerak, dia bingung harus berbuat apa. Mata nya mencari cari seseorang untuk membuatnya bisa bergerak ataupun membuatnya supaya menghilang dari tempatnya berdiri karna dia tak tau harus apa. Rio melangkah mendekati ve yang sedang memeluk bukunya, dia mengulurkan tangan kanannya kearah ve, sambil tersenyum seperti biasa yang membuat ve berasa terbang. “Ayo ke kelas ve” ajak rio. Ve mengikuti perintah rio dan menyambut tangannya dengan hangat dan mereka pun berjalan ke kelas.

***

Ini adalah waktu

Disaat semua mempertemukan kita

Dan disaat semua mempisahkan kita

Ini hanya masalah waktu

Perpisahan yang dapat kita jumpai lagi

Dan perpisahan yang takkan pernah kita bertemu lagi

Tuhan kenapa engkau ciptakan pertemuan

Jika selalu berujung perpisahan

Dan kenapa perpisahan itu selalu ada airmata

Buat lah aku kuat tuhan.

     

   Beberapa bulan terakhir, ve di ribetkan soal masalah percintaannya. Yaa maklum aja sih, dia baru merasakan yang namanya cinta sesungguhnya. Dan hari ini dia akan berziarah ke makam mama nya, tepat 2 tahun mamanya meninggal. Dia pergi tak sendirian, dia pergi bersama rio. Semenjak kejadian di kantin itu, mereka menjadi semakin dekat. Tapi belum ada status yang jelas di antara mereka. Sudah pukul 10 pagi, dan rio pun sampai rumah. Mereka langsung berangkat menuju makam, terlihat ve menggunakan baju berwarna putih dan membawa sebucket mawar merah kesukaan mamanya. Mereka tiba di makam dengan cepat dan langsung mencari kuburan sang mama. Ve dan rio berjongkok membersihkan makam yang banyak daun keringnya, lalu rio menyiram makam mamanya ve dan menaburinya bunga. Sedangkan ve hanya dia menatap nisan mamanya dan memegangnya, lalu mawar yang dia pegang, di taru dan di sandarkan pada nisan sang mama. Mereka berdua berdoa, ve memejamkan matanya berdoa untuk sang mama. Begitu selesai membaca doa, rio hanya terdiam melihat ve sedangkan ve masih memandangi nisan sang mama. Dan dia akhirnya mulai memecah keheningan.

“Ma, udah 2 tahun mama ninggalin aku. Udah 2 tahun aku besar tanpa mama, banyak perubahan sama aku ma. Mama pasti tau itu, aku kangen banget sama mama. Kangeenn banget, semenjak mama pergi, aku selalu merasa kesepian. Padahal ada mereka di samping aku, tapi aku beruntung ma. Beberapa bulan ini aku banyak pengalaman dan aku gak merasa sendirian lagi. Daann.. oh iya ma, ini rio.” Ujar ve yang sambil tersenyum dan melihat ke rio.

“Hai tante, aku rio. Aku temennya ve, ehh ntahlah bisa disebut temen atau lebih dari itu. Soalnya aku pernah bilang suka sama dia tapi gak di bales tan, huu kasian yah aku tan.” Kata rio yang melirik kearah ve dengan tersenyum nakal. Ve tampak terkejut mendengar ucapan rio tadi dan sedikit tersipu.

“Tuh ma liat, anaknya di gituin ma sama rio.”

“Yee, emang aku bilang apa. Emang bener kan, tante aja tau. Iya kan tan, yee.” Celoteh rio jail. Sedangkan ve, tersenyum malu.

“Tapi tenang tan, aku bakalan jagain ve sampai kapan pun. Tante bisa ngandelin aku kok.” ujar rio lagi dan kali ini senyum nya penuh arti.

***

     Ve sedang duduk di bangku café sagitta cookie, tempat biasa dia berkumpul dengan teman temannya. Dia lagi menunggu rio yang memesan minuman, tiba tiba mata ve berenti pada segerombolan anak perempuan dan laki laki sedang bersenda gurau, tawa nya lepas seperti tak ada beban.

*Disaat aku merasa sendiri, disaat itulah aku merasa tak punya siapa-siapa. Aku selalu merasa kesepian, yang aku butuhkan hanyalah keramaian. Sedikitnya bias mengurangi rasa sepi ku. Meskipun hanya sementara, tapi cukup membuat ku berenti merasa sendiri kala itu.* Kata ve dalam hatinya, dia masih memperhatikan anak anak yang berada di depan sisi kanannya.

“Hey ve, maaf lama yah.” Ujar rio sambil mengasih minuman ke ve dan langsung duduk di depannya.

*Tapi kini perasaan merasa sendiri itu tak pernah hadir kembali, bahkan mungkin menghilang. Aku beruntung, selain ada kedua sahabatku, dan keluargku. Sekarang ada rio disini, dialah yang merubahku, dialah yang menyadarkan ku bahwa hidup ini indah, bahwa banyak orang di sekeliling ku yang saying denganku. Aku terlalu lama terpuruk, aku terlalu lama terlalu lama larut dalam kesedihan atas meninggalnya mama. Aku melewatkan banyak hal menyenangkan bersama teman temanku, kakak dan papa. Terlalu lama aku membuat merka khawatir, mama sendiri pasti sedih melihat ku yang selama ini menyendiri. Ini saat nya aku bangkit, semangat ve. Buat mereka bangga sama lu, jangan bikin mereka sedih dan khawatir lagi. Anak mama dan papa itu gak boleh nyusahin :’)* ujar nya dalam hati sambil mengaduk aduk minumannya.

   “Ve, kamu kenapa. Sakit? Punya masalah? Cerita dong sama aku.” Oceh rio bingung, rio mengusap punggung tangan kiri ve yang berada di atas meja.

“Enggak yo aku Cuma lagi mikir aja, aku terlalu lama terpuruk sama keadaan sedih aku di tinggal mama. Sampai sampai aku gak peka sama sekitar lingkungan, aku pingin berubah jadi ve yang dewasa.” Jawab nya sambil tersenyum ke rio. Rio menatap ve senang, sepertinya dia berhasil membuat ve bangkit kembali. Dia tersenyum manis ke ve di sambut dengan usapan halus yang mendarat di kepala ve.

“Aku seneng dengernya, akhirnya ve yang dulu bangkit lagi. Dan aku gak akan biarin kamu sedih, biarin kamu sendirian lagi dan aku akan bikin senyum princess Aquila Sagitta Vela Kunisaki ku ini selalu mekar di bibir nya.”

“Janji little finger!” ujar ve yang menyodorkan jari kelingkingnya, sembari tersenyum.

“Janji little finger!” rio menyambut jari kelingking ve dangan kelingkingnya, kini kedua jari mereka berpautan. Dan mereka langsung melepasnya.

“Ketahui lah ve, kematian, jodoh, pertemuan bahkan perpisahan. Kita semua gak akan tau bagaimana nantinya, bahkan yang terjadi hari esok aja kita gak tau. Dan kapan hal itu datang, yang kita perbuat hanya lah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Dan jangan lupa tabungan ibadahnya, karna itu lah persiapan kita di akhirat nanti.” Ujar rio tersenyum.

***

Tuhan, jangan hentikan waktu ku sekarang.

Jangan mempercepat waktu berjalan,

Aku ingin merasakan nya lebih lama,

Merasakan denyut nadi ini masih berdetak

Menikmati sang fajar dan menikmati datangnya senja.

Hujan telah menghapus semua jejak sedih ku

Dan matahari telah membawa sinar nya di hidup baru ku.

Aku butuh waktu lebih lama..

Agar aku bisa memperbaiki semua masa yang tlah ku lewatkan

Dengan sia sia…

----

      Ve langsung bangkit dari duduknya dan bergegas keluar kamar, begitu mendapat sms dari rio. Langkah nya memburu begitu pamit dengan sang papa, ve langsung naik ke motor rio yang tengah siap melaju..

“Are you ready princess Aquila?” Tanya rio kepada ve yang tengah memakai helm.

“Ready my prince Pyxis Anggara Rio Capheus.” Jawab ve yang langsung berpegangan di pinggang rio.

“Haha, kalau begitu kita cusss…” Kata rio yang langsung melaju motornya.

***

Tuhan, jika aku dapat meminta

Jangan ambil nyawa ku sekarang,

Jangan ambil mereka yang aku sayang sekarang.

Tuhan, jika aku dapat meminta

Tolong jangan ambil kebahagiaan yang baru saja aku bangun

Jangan pisahkan aku dengan mereka..

Aku sayang mereka

Aku sayang teman teman ku, papa ku, kakak ku, dan rio.

Semua orang yang berada di sekitar ku.

Tuhan, mohon ku.

Jaga lah mama ku, beritahu dia bahwa aku sangat merindunya.

Dia lah segalanya untuk ku.

         *Tuhan aku hanya butuh waktu yang lama bersama mereka semua, iyaa hanya butuh waktu yang lama...*

                           -The End-

Catatan Kecil : Mohon maaf bila ada salah salah kata, nama tempat, tokoh atau lain sebagainya. Maaf juga kalau cerita nya garing, gak berkesan apapun. Namanya juga masih belajar, hehe. Ehhh tapi jangan lupa comment nya please :) Terimakasih :*
Read More..